Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Seabad Gedung Sate, Fondasi Batu Bulat Anti-gempa dan 6 Juta Gulden

Kompas.com, 27 Juli 2020, 21:30 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bandung memang memiliki ciri khas yang lain dibandingkan kota-kota besar di Indonesia.

Di kota inilah, paduan bentuk dan gaya arsitektur Belanda dengan China maupun Islam banyak digunakan.

Tempat ini pun pernah menjadi surga bagi para arsitek. Nama-nama arsitek tersohor seperti Wolff dan RLA Schoemaker, Van Galeb Last, Thomas Karsten, Ed Cuypers, atau Maclaine Pont pernah menorehkan karya di kota ini.

Baca juga: Sejarah Seabad Gedung Sate, Kisah 7 Pemuda Gugur Saat Mempertahankannya dari Serangan Tentara NICA dan Gurkha

Bangunan berarsitektur kolonial pun masih ada hingga sekarang, salah satunya adalah Gedung Sate yang saat ini sudah berusia tepat 100 tahun.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

SELAMAT ULANG TAHUN KE 100 TAHUN GEDUNG SATE ! Hari ini, 27 Juli 100 tahun lalu dimulainya pembangunan gedung oleh 2000 pekerja dari seluruh Jawa Barat. Diarsiteki oleh Ir. J. Gerber. Sekarang menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Kami mau kasih hadiah atau GIVEAWAY kepada para netizen. Syaratnya follow akun @humas_jabar , bikin pantun atau posting foto gedung sate dan beri hashtag #100tahungedungsate Contoh: “Kalo bete dihiburnya oleh Limbad. Kalo putus dihiburnya oleh Raisa. Gedung Sate sudah berusia satu Abad. Gedungnya memang paling bagus se Indonesia.” GIVEAWAY untuk 50 netizen: Tabungan 1 juta rupiah dari BJB untuk 5 orang, 3 buah coffee maker, perangko 100tahun gdg sate, voucher belanja bahan pokok, voucher belanja baju, tas package AKB (sanitizer, masker, sabun cair), kaos T-shirt 100 tahun gedung sate. Foto by @dudisugandi

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil) on Jul 26, 2020 at 9:55pm PDT

Pada mulanya gedung ini merupakan Kantor Departement Verkeer en Waterstaat (Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum).

Kemudian sempat menjadi pusat pemerintahan Gouvernements Bedrijven (Hindia Belanda), dan akhirnya kembali dipakai sebagai Kantor Jawatan Pekerjaan Umum.

Bangunan ini digunakan sebagai markas Divisi India ke-23 berkekuatan 2400 tentara yang ditempatkan di Jawa Barat.

Gedung Sate juga pernah digunakan sebagai tempat negosiasi terakhir antara Mayor Jenderal Hawthorn dari pihak Sekutu dan Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan Sjafrudin Prawiranegara mengenai batas akhir ultimatum kedua, yang disampaikan Sekutu agar masyarakat meninggalkan Bandung.

Baca juga: Menikmati Loji Gandrung Sepeninggal Jokowi

Pasca kemerdekaan, bangunan ini pernah menjadi gudang arsip Departemen PU. Kini, Gedung Sate menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat dan merupakan salah satu tengara di Kota Bandung.

Pembangunan Gedung Sate beserta beberapa bangunan lainnya seperti Vila Isolla tak terlepas dari era kebangkitan dunia arsitektur di Kota Bandung.

Kantor Gubernur Jawa Barat atau akrab disebut Gedung Sate.KOMPAS.COM/DENDI RAMDHANI Kantor Gubernur Jawa Barat atau akrab disebut Gedung Sate.
Mengutip pemberitaan Harian Kompas, 13 Januari 1988, Gedung Sate merupakan bangunan pertama di Indonesia yang menggunakan beton bertulang yang dirancang oleh arsitek J Berger.

Pembangunannya dimulai pada 27 Juli 1920 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops, putri Wali Kota Bandung B Coops, dan Gubernur Jenderal di Batavia yang diwakili Petronella Roelofsen.

Pembangunan Gedung Sate awalnya dilaksanakan sebagai rencana besar pembangunan Kota Bandung secara menyeluruh.

Baca juga: Biro Arsitektur Bandung Jadi Finalis Penghargaan Dunia

Saat ini masyarakat lebih senang menyebutnya sebagai Gedung Sate, sebab terdapat enam tusuk bulatan menyerupai sate pada puncak menara gedung.

Keenam bulatan tersebut sebenarnya menunjukkan besarnya biaya pembangunan gedung yang mencapai enam juta gulden.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau