Seabad Gedung Sate, Fondasi Batu Bulat Anti-gempa dan 6 Juta Gulden

Kompas.com - 27/07/2020, 21:30 WIB
Kantor Gubernur Jawa Barat atau akrab disebut Gedung Sate. KOMPAS.COM/DENDI RAMDHANIKantor Gubernur Jawa Barat atau akrab disebut Gedung Sate.

Mengutip pemberitaan Harian Kompas, 13 Januari 1988, Gedung Sate merupakan bangunan pertama di Indonesia yang menggunakan beton bertulang yang dirancang oleh arsitek J Berger.

Pembangunannya dimulai pada 27 Juli 1920 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops, putri Wali Kota Bandung B Coops, dan Gubernur Jenderal di Batavia yang diwakili Petronella Roelofsen.

Pembangunan Gedung Sate awalnya dilaksanakan sebagai rencana besar pembangunan Kota Bandung secara menyeluruh.

Baca juga: Biro Arsitektur Bandung Jadi Finalis Penghargaan Dunia

Saat ini masyarakat lebih senang menyebutnya sebagai Gedung Sate, sebab terdapat enam tusuk bulatan menyerupai sate pada puncak menara gedung.

Keenam bulatan tersebut sebenarnya menunjukkan besarnya biaya pembangunan gedung yang mencapai enam juta gulden.

Langgam arsitektunya memadukan aliran Moor yang bergaya Spanyol dengan gaya arsitektur Indonesia.

Misalnya bagian atap gedung yang dirancang dengan tiga tingkat atau tumpukan piramid dengan jumlah ganjil dengan ukuran semakin ke atas semakin kecil, disebut mirip dengan meru di Bali.

Baca juga: Sejarah Ombilin Sawahlunto, dari Kota Tambang Jadi Situs Warisan Dunia

Salah satu tampilan dari beberapa bagian yang menyusun dinding Gedung Sate sehingga gedung tersebut masih berdiri kokoh hingga kini, Bandung, Kamis (16/1/2020).kompas.com / Nabilla Ramadhian Salah satu tampilan dari beberapa bagian yang menyusun dinding Gedung Sate sehingga gedung tersebut masih berdiri kokoh hingga kini, Bandung, Kamis (16/1/2020).
Sementara atap gedung terbuat dari sirap. Secara keseluruhan, Gedung Sate memberikan kesan anggun dan berwibawa.

Terutama karena letaknya yang sengaja cukup jauh dari jalan raya serta keberadaan pintu gerbang lebar yang memperlihatkan kemegahan bangunan.

Keunikan lainnya terletak pada fondasi bangunan. Batu fondasi yang digunakan adalah batu bulat bertautan yang dibawa dari daerah Arcamanik dan Manglayang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terpopuler

komentar di artikel lainnya
Close Ads X