Kondisi Properti 2017 Masih Stagnan - Kompas.com

Kondisi Properti 2017 Masih Stagnan

Kompas.com - 13/07/2017, 21:28 WIB
Ilustrasi propertiwww.shutterstock.com Ilustrasi properti

JAKARTA, KompasProperti - Prediksi sebagian pengembang bahwa tahun ini bakal menjadi tahun kebangkitan sektor properti tidak sepenuhnya tepat.

Kendati pemerintah telah memberikan stimulus untuk mendorong pertumbuhan, namun hal itu tidak berjalan mulus.

Saat ajang South East Asia Property Awards 2016 digelar di Singapura pada 23-24 November 2016 lalu, Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Herman Nagaria, secara tegas menyatakan hal tersebut.

"Sekaranglah saat terbaik untuk membeli, dan berinvestasi properti," katanya saat itu.

Berbagai alasan diungkapkan, seperti harga yang terkoreksi jauh, bila dibandingkan tahun 2011-2013 yang melonjak mencapai 30-40 persen.

Kemudian, stimulus pemerintah melalui paket kebijakan ekonomi, mulai dari penurunan bunga kredit, relaksasi loan to value, potongan pajak penjualan, deregulasi perizinan, hingga amnesti pajak.

Paket-paket tersebut sengaja dikeluarkan untuk mendorong minat masyarakat berinvestasi di sektor properti.

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto menilai, bila pemerintah konsisten menerapkan kebijakan yang dibuatnya, bisa jadi sektor properti Indonesia dapat segera bangkit.

"Sekarang masih struggling, cuma kalau asumsi dari indikasi ekonomi, kemudian kebijakan dijalankan konsisten, bunga bank terjaga, itu namanya ada kesempatan properti itu bisa pulih," kata Ferry kepada KompasProperti, Kamis (13/7/2017).

Menurut dia, para pengembang sebenarnya telah menangkap sinyal perbaikan sektor properti sejak tahun lalu yang disikapi dengan meluncurkan produk properti baru.

Seperti di sektor apartemen. PT Tokyu Land Indonesia sudah mulai memperkenalkan produk mereka, BRANZ Simatupang, kepada publik. Dari dua menara dengan 381 unit yang ditawarkan, satu diantaranya telah terjual habis.

Sementara itu, pada kuartal kedua tahun ini ada dua produk apartemen baru yang hendak diperkenalkan yaitu Prosperity Residence (The Lotus) di Jakarta Barat dan The Stature Jakarta di Jakarta Pusat.

Sayangnya, pertumbuhan penjualan properti tak sepenuhnya berjalan seperti harapan. Colliers mencatat, kenaikan take up rate pada kuartal kedua 2017 hanya 84,86 persen.

Artinya, terjadi penurunan 1,04 persen bila dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini yaitu 85,91 persen atau turun 1,05 persen bila dibandingkan kuartal yang sama tahun 2016 yaitu 85,90 persen.

Kendati terjadi penurunan, namun pengembang enggan menurunkan harga produk yang mereka jual untuk menggaet minat masyarakat untuk membeli.

"Karena image," ucapnya.

Pengembang cenderung memilih menawarkan kemudahan atau bonus, seperti kitchen set, air conditioner atau mekanisme pembayaran yang jauh lebih fleksibel.

"Tax Amnesty" Belum Beri Pengaruh

Meski dana tax amnesty yang masuk cukup besar, namun dana yang digunakan untuk investasi properti tidak terlalu signifikan. Hal itu disebabkan, imbal balik dari investasi properti belum cukup menarik.

Dari data yang diperoleh pada akhir periode pelaporan, tercatat harta yang dilaporkan melalui tax amnesty mencapai Rp 4.885 triliun.

Deklarasi harta di dalam negeri masih mendominasi dengan total Rp 3.676 triliun. Sisanya yaitu deklarasi harta di luar negeri Rp 1.031 triliun dan harta yang dibawa pulang ke Indonesia (repatriasi) Rp 147 triliun.

Ilustrasi tax amnesty.THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi tax amnesty.

Adapun jumlah uang tebusan mencapai Rp 114 triliun, pembayaran tunggakan Rp 18,6 triliun, dan pembayaran bukti permulaan Rp 1,75 triliun. Total uang yang masuk ke kas negara mencapai Rp 135 triliun.

Menurut Ferry, properti belum terdongkrak karena salah di antaranya terpengaruh bisnis perminyakan yang secara global sedang kurang baik. Hal itu juga berdampak pada jumlah ekspatriat yang bekerja di Tanah Air.

Padahal sebelumnya, salah penyumbang terbesar penyewa apartemen adalah kelompok ekspatriat yang bekerja di sektor tersebut.

"Kenapa begitu? Karena pasar sewa sedang turun, itu karena penyewanya berkurang. Ujung-ujungnya kegiatan ekonomi dan bisnisnya yang berkurang," kata dia.

Ferry mengaku, tidak ada data yang pasti berapa jumlah pembeli apartemen end user dan investor. Namun, ia memperkirakan jumlah investor lebih besar dari pada end user.

Pahami Pasar

Kendati demikian, masih tetap ada peluang bagi properti untuk bangkit. Paket kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah merupakan kebijakan yang positif. Terutama relaksasi loan to value dan penurunan suku bunga.

"Itu kombinasi ideal supaya properti berkembang. Artinya, konsumen didorong bisa beli properti dengan dukungan KPA atau KPR," kata dia.

Menurut dia, saat ini pemerintah harus dapat menjaga kepercayaan pasar dengan memahami situasi dan kondisi yang berkembang.

Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen

Beberapa waktu lalu, sempat berkembang isu yang cukup meresahkan pasar sehingga berpengaruh terhadap pembelian di sektor properti, seperti penarikan pajak progresif kepada pengembang yang tanahnya menganggur atau apartemen yang menganggur.

"Ini kan kontraproduktif dengan situasi sekarang, saat kita mau narik dana dari hasil pajak, tapi di satu sisi masyarakat kesulitan. Bagaimana mau tarik pajak, yang ada jadi ragu mau investasi di properti," ujarnya.

"Sudah pasarnya lesu, disuruh bayar pula. Yang ada enggak ada yang mau kan orang beli properti," tuntas Ferry


EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X