Berpotensi Likuefaksi, Jalan di Bandara YIA Dibangun dengan Metode "Dynamic Compaction"

Kompas.com - 24/09/2020, 16:00 WIB
Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sudah memiliki 100 persen sisi udara, terdiri runway atau landas pacu sepanjang 3.250 meter dan lebar 75 meter. Apron mampu menampung 23 parking stand lesawat di luasan 159.140 m2. Landasan ini dirancang bisa didarati pesawat komersil terbesar maupun terberat di dunia, yakni  melayani lalu lintas pesawat kecil hingga jenis pesawat komersil berbadan lebar (wide body), seperti Airbus A380 serta Boeing 747 dan 777. PT Angkasa Pura I (Persero) merencanakan penerbangan perdana pada 29 April 2019 depan. KOMPAS.com/DANI JBandara Yogyakarta International Airport (YIA) sudah memiliki 100 persen sisi udara, terdiri runway atau landas pacu sepanjang 3.250 meter dan lebar 75 meter. Apron mampu menampung 23 parking stand lesawat di luasan 159.140 m2. Landasan ini dirancang bisa didarati pesawat komersil terbesar maupun terberat di dunia, yakni melayani lalu lintas pesawat kecil hingga jenis pesawat komersil berbadan lebar (wide body), seperti Airbus A380 serta Boeing 747 dan 777. PT Angkasa Pura I (Persero) merencanakan penerbangan perdana pada 29 April 2019 depan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Metode pemadatan tanah pada pembangunan proyek Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggunakan tipe  dynamic compaction (pemadatan dinamis).

Geotechnical Expert PT PP (Persero) Tbk Masyhur Irsyam mengatakan hal itu saat lokakarya Megainfrastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Karya Anak Bangsa secara virtual, Kamis (24/9/2020).

"Dari pertimbangan teknis, biaya, dan waktu, maka dipilih tipe pemadatan dynamic compaction," tegas Masyhur.

Metode pemadatan ini perlu dilakukan mengingat lokasi Bandara YIA sangat dekat dengan sumber gempa sesar, maupun megathrust dengan ketinggian magnitudo.

Oleh karena itu, pembangunan Bandara YIA perlu direncanakan sebaik mungkin seperti, tahan tsunami, gempa bumi, serta likuefaksi ( pencairan tanah).

Baca juga: Lokakarya Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Resmi Digelar

Perlu diketahui, kondisi tanah di Bandara YIA memiliki kategori pasir lepas-sangat lepas karena kedalaman tanah hanya sekitar 0-3 meter. 

Dengan begitu, kondisi tanah di bandara tersebut berpotensi besar mengalami likuefaksi karena bersifat kurang padat.

Metode dynamic compaction dinilai sangat tepat untuk mencegah terjadinya likuefaksi pada jalan di bandara tersebut.

Cara kerja dari sistem pemadatan dinamis ini adalah dengan menjatuhkan hammer mulai dari ketinggian 15-20 meter dengan berat bervariasi, mulai dari 15 hingga 23 ton.

Pemadatan ini dilakukan sebanyak tiga tahap yakni, pemadatan dalam, pemadatan menengah, serta pemadatan dangkal.

Demi mengetahui keadaan tanah, kontraktor mengecek kepadatan menggunakan metode quality control (kontrol kualitas) dan cone penetration test (CPT) atau perlawanan penetrasi konus).

Baca juga: Bersama China, BMKG Kembangkan 3 Sistem Baru Deteksi Gempa dan Tsunami

Metode CPT ini berguna untuk mengetahui letak lapisan tanah keras pada lapisan tanah lempung.

Setelah melakukan CPT, pengeboran dilakukan untuk melakukan pemadatan tanah secara dinamis.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X