Strategis, Jalan Paralel Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar Dibangun Bertahap

Kompas.com - 29/07/2020, 09:00 WIB
Ilustrasi jalan. Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPRIlustrasi jalan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ( PUPR) secara bertahap membangun jalan paralel perbatasan Indonesia-Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Pembangunan infrastruktur jalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah atau membuka akses daerah terisolasi.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan jalan perbatasan bernilai strategis karena memiliki fungsi pertahanan dan keamananan serta menumbuhkan ekonomi di kawasan perbatasan.

“Pembangunan kawasan perbatasan bukan hanya untuk gagah-gagahan tetapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perbatasan dengan menciptakan embrio pusat pertumbuhan baru di kawasan perbatasan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam siaran pers, Selasa (28/7/2020).

Jalan paralel perbatasan Kalbar yang tengah dibangun memiliki total panjang keseluruhan 811.32 kilometer dan dibagi menjadi dua, 607.81 kilometer berstatus jalan non-nasional dan 203.51 kilometer menjadi jalan nasional.

Hingga Juli 2020, jalan paralel sepanjang 811.32 kilometer tersebut telah tembus seluruhnya dari Temajok hingga Batas Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Seluruh jalan rata-rata memiliki lebar minimal 6 meter dan Ruang Milik Jalan (Rumija) selebar 15 hingga 25 meter.

Dari seluruh jalan yang telah tembus, kondisinya sudah teraspal sepanjang 318,89 kilometer atau mencapai progres 39,30 persen, lapisan agregat sepanjang 195.96 kilometer atau 24,15 persen, dan perkerasan tanah sepanjang 296.47 kilometer atau 36,54 persen.

Tahun ini, Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga melakukan relaksasi/refocussing pagu anggaran. Sehingga, anggaran yang tersedia untuk konstruksi jalan dan jembatan sebesar Rp 247 miliar.

Baca juga: Proyek Jalan Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kaltara Terus Berlanjut

Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan ruas Temajuk-Aruk sepanjang 5,8 kilometer, pekerjaan lapis permukaan ruas Aruk–Batas Kecamatan Siding/Seluas sepanjang 6,8 kilometer, pembangunan Jalan Ruas Batas Kecamatan Siding/Seluas-Batas Kecamatan Sekayan/Entikong sepanjang 56 kilometer.

Kemudian pembangunan Jalan Batas Kapuas Hulu/Sintang-Nanga Badau sepanjang 4,7 kilometer, Nanga Era-Batas Kaltim sepanjang 6,4 kilometer, dan pemeliharaan rutin Temajuk-Nanga Badau dan Nanga Era-Batas Kaltim sepanjang 471,9 kilometer.

Selain itu, Kementerian PUPR juga membangun 3 jembatan yakni, ruas Jalan Batas Kecamatan Siding/Selua-Batas Kecamatan Sekayan/Entikong sepanjang 300 meter, Jembatan Ruas Jalan Entikong-Rasau–Badau sepanjang 859 meter, dan Jembatan Ruas Jalan Nanga Era-Batas Kaltim sepanjang 390 meter.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Herlan Hutagaol mengungkapkan, seluruh ruas yang masih berupa hutan dari Temajok Aruk-Badau-Putusibau-Naga Era-Batas Kaltim telah dibuka oleh Zeni TNI Angkatan Darat.

"Tetapi masih terdapat badan jalan di beberapa ruas yang sudah dibuka TNI masih belum memenuhi syarat gradenya. Sehingga, memerlukan perbaikan alignment baik vertikal maupun horizontal," ujar Herlan.

Herlan melanjutkan, secara bertahap akan dilakukan perbaikan sesuai ketentuan maksimal kelandaian jalan nasional.

Selain masih memerlukan peningkatan kualitas kondisi jalan, saat ini juga masih terdapat 21 jembatan bentang antara panjang 20 hingga 80 meter dengan total panjang 845 meter yang belum ditangani dengan kebutuhan biaya sekitar Rp 303,4 miliar.

Baca juga: Dua Tahun Lagi, Jalan Paralel Perbatasan Kalbar-Malaysia Berfungsi

"Diperkirakan pada tahun 2024 semua jembatan sudah selesai dikerjakan dan fungsional jalan bisa lancar," lanjutnya.

Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran untuk proses pengaspalan dan perbaikan geometrik jalan paralel perbatasan Kalbar hingga akhir tahun 2024 (fungsional dilewati kendaraan roda empat) diperkirakan sebesar Rp 3,5 triliun,

Anggaran tersebut sudah termasuk untuk pembangunan jembatan.

Sedangkan untuk penuntasan aspal (black top) sampai akhir tahun 2026 pada ruas jalan Nanga Era-Batas Kaltim diperlukan biaya sebesar Rp 4,5 triliun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X