Tol Trans-Sumatera Bisa Disebut Layak Finansial jika Aceh-Lampung Tersambung

Kompas.com - 13/07/2020, 15:32 WIB
Ilustrasi jalan tol. Dok. PT Hutama Karya (Persero)Ilustrasi jalan tol.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Keuangan PT Hutama Karya (Persero) Hilda Savitri mengaku, kendala utama dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) adalah tak layak secara finansial.

Menurut Hilda, hal tersebut terjadi karena trafik jalan tol di JTTS ini berada jauh di bawah minimum secara komersial.

"Umumnya, volume trafik jalan tol secara komersial berada di kisaran 25.000 pengguna per hari. Sedangkan, di JTTS hanya 15.000 kendaraan dan bahkan di bawah 10.000 kendaraan per hari," ungkap Hilda dalam diskusi virtual, Sabtu (11/7/2020).

Namun sejauh ini, dia bilang, kendala tersebut dapat diatasi dengan koordinasi yang baik oleh berbagai pihak.

Baca juga: Hutama Karya Minta Pemerintah Segera Bayar Utang Rp 1,88 Triliun Pengadaan Tanah

Terkait kelayakan JTTS, Pengamat Pembiayaan Infrastruktur IAP Bernardus Djonoputro mengatakan, harus dilihat dari bagaimana perhitungan gabungan finansial, dan dampak ekonominya.

"Selain itu, pemerintah juga harus melihat porsi anggaran pemerintah. Karena misi dari pembangunan JTTS adalah menciptakan kutub pertumbuhan baru," jelas Bernie kepada Kompas.com, Senin (13/7/2020).

JTTS ini merupakan strategi untuk menghubungkan kutub-kutub pertumbuhan, dan menciptakan kutub baru.

Dari 24 ruas sepanjang 2.765 kilometer, saat ini JTTS baru beroperasi 467,6 kilometer ditambah 311 kilometer yang akan operasional tahun ini, dan semuanya masih pada ruas-ruas ke dan dari sekitar kota metropolitan dan kota besar.

Menurut Bernie, pertumbuhan pengguna akan meningkat seiring tersambungnya Aceh hingga ke Lampung.

Baca juga: Hutama Karya Siap Bangun Kawasan Industri Sekitar Tol Trans-Sumatera

Pada saat itu pergerakan orang dan komoditas perkebunan dan pertambangan serta migas, kelapa sawit, kopi, kakao, karet, kayu, besi, aluminium, batubara, urea, dan timah, akan mempercepat pembangunan Sumatera.

Pasalnya, kota-kota besar di pulau ini seperti bisa ditempuh dengan kendaraan darat kurang dari 12 jam dari Jakarta.

"Kelayakan finansial harus mempertimbangakan saat semuanya tersambung, di mana nilai ekonomi meningkat, angka biaya logistik menurun, angka kemiskinan menurun, kesenjangan dan ketimpangan ekonomi menurun," terang Bernie.

Selain itu, komitmen menghubungkan kutub pertumbuhan yang menghubungkan sentra-sentra produksi sudah seharusnya menjadi tugas pemerintah.

"Dan langkah pemerintah Indonesia saat ini sudah tepat dengan menyambungkan Aceh ke Lampung," tuntas dia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X