Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia, Kawasan Manufaktur Paling Kompetitif Nomor Lima di Dunia

Kompas.com, 8 Juli 2020, 09:49 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia menempati posisi kelima sebagai kawasan manufaktur dengan biaya paling kompetitif di dunia.

Posisi Indonesia berada di bawah China, India, Vietnam, dan Malaysia, serta mengungguli 43 negara lainnya yang disurvei oleh Cushman & Wakefield.

Indonesia mempertahankan posisi kelima teratas dari tahun 2019 lalu sementara China mempertahankan posisi terdepan.

Sementara Vietnam dan India masing-masing melompat ke posisi kedua dan ketiga.

Dalam laporan Indeks Risiko Manufaktur atau Manufacturing Risk Index (MRI) 2020,  Cushman & Wakefield menilai industri manufaktur Indonesia menarik dari segi kondisi operasi dan perspektif daya saing biaya.

MRI tahunan ini memberi skor pada masing-masing negara untuk 20 variabel yang mencakup kondisi, biaya, dan risiko.

Pemeringkatan ini lebih menekankan pada pengurangan biaya untuk memberikan skor yang lebih tinggi kepada negara-negara di mana biaya operasi, termasuk tenaga kerja lebih rendah.

Data yang mendasari MRI berasal dari beragam sumber yang dapat diandalkan termasuk Bank Dunia, UNCTAD dan Oxford Economics.

Baca juga: Jawa Tengah Trending, Bakal Primadona Baru Kawasan Industri?

MRI 2020 juga mencakup analisis dampak Covid-19 pada sektor manufaktur global dan kemampuan negara-negara tersebut memulai kembali sektor manufaktur mereka begitu situasi kembali normal.

Director Industrial and Land Sales Cushman & Wakefield Indonesia Wira Agus menuturkan peringkat Indonesia berada di lima besar dunia berdasarkan rencana pemerintah dalam mendistribusikan kembali kawasan-kawasan manufaktur ke luar Pulau Jawa.

Rencana tersebut termasuk pembangunan Zona Ekonomi Khusus, dan percepatan pembangunan kawasan industri melalui insentif fiskal dan dan berbagai kebijakan lainnya.

Agus menambahkan, Pemerintah juga memiliki rencana meningkatkan infrastruktur logistik dengan mengembangkan tol laut.

"Meningkatkan infrastruktur fisik memang perlu, namun hal itu harus disertai dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja terutama di provinsi di luar Jawa untuk mendorong lebih banyak perusahaan merealisasikan ekspansinya," jelas Agus dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (8/7/2020).

Sejatinya, pergeseran industri manufaktur menuju kawasan Asia Tenggara, telah lama berlangsung. Hal ini dipicu oleh, antara lain, upah minimum tenaga kerja di China yang terus tumbuh.

Selain itu, pesanan untuk produk padat karya, seperti pakaian, mainan dan sepatu, bergeser ke lokasi yang lebih murah seperti India, Bangladesh, Myanmar dan Vietnam.

Meski demikian, Head of Research Singapore and South East Asia Cushman & Wakefield Christine Lie negara-negara Asia Tenggara harus belajar banyak dari China.

Meskipun inisiatif pemerintah telah menarik banyak perusahaan untuk relokasi ke negara-negara Asia Tenggara, China tetap dapat mempertahankan keunggulan infrastruktur dengan kemampuan mendiatribusikan barang secara efisien melalui transportasi darat, kereta api atau laut. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau