Mempertanyakan "New Normal" (II)

Kompas.com - 01/05/2020, 20:49 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Dan banyak hal baru secara tidak sadar kita adopsi sebagai kebiasaan.

Bagaimana kebiasaan bertahan dan bagaimana kebiasaan menjadi kenangan?

Untuk memprediksi kebiasaan apa yang masih akan kita lakukan setelah masa isolasi usai, kita harus sadar bahwa wabah ini secara bertahap akan hilang, sehingga berangsur-angsur anxiety dan fear-nya pun menjadi pudar, dan intangible.

Ketika itu terjadi maka pikiran kita akan berangsur-angsur pindah ke need and want ketimbang terintimidasi oleh pain, fear dan anxiety.

Pertanyaannya, dengan absennya anxiety, fear and pain, apakah kita masih punya motivasi kuat untuk melakukan apapun kebiasaan kita itu, baik minum jamu herbal, bertransaksi daring, cuci tangan, menggunakan masker, dan lain sebagainya?

Dari perspektif Maslow Hierarchy of Needs, ketika Isolasi dicabut maka kebutuhan mendasar akan mudah terpenuhi.

Akses untuk bisa makan mulai menjadi normal, rasa aman mulai muncul, kita pun mulai shifting ke pemenuhan kebutuhan di hierarchy yang lebih tinggi seperti self esteem dan self actualization, dan ketika itu terjadi apakah kebiasaan yang terbentuk dari new normal ini masih punya alasan untuk dilakukan?

 

Bersambung

 

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X