Mempertanyakan "New Normal" (II)

Kompas.com - 01/05/2020, 20:49 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

COVID-19 terbukti punya dampak yang begitu sistemik, bukan hanya dari sisi kesehatan tapi juga perekonomian.

Ketika miliaran orang di seluruh dunia mengurangi aktivitasnya dan menghabiskan hampir dari seluruh waktunya di rumah, maka roda ekonomi pun melambat.

Kita pun dipaksa untuk memiliki kebiasaan baru; yang dulunya menggunakan handphone hanya untuk berkomunikasi, kini mulai fasih berbelanja online.

Jika sebelumnya menggunakan laptop hanya untuk membuka aplikasi perkantoran, kini khatam menuntun anaknya bersekolah dengan layanan kelas daring dan konferensi video.

Kebiasaan- kebiasaan baru ini yang sering disebut sebagai new normal, atau kebiasaan baru yang awalnya tidak biasa, namun kemudian menjadi kenormalan baru.

Baca juga: Mempertanyakan New Normal (I)

Artikel ini merupakan bagian ke-2 dari tiga tulisan yang mengupas tentang kebiasaan baru atau New Normal di tengah Pandemi Covid-19.

Habit Formation Model

Charles Duhigg dalam bukunya Habit memperkenalkan konsep habit formation yang memiliki tiga elemen utama.

Kebiasaan terbentuk ketika ada cue/trigger yang dalam kasus ini direprentasikan sebagai ketakutan yang muncul atas berita dan fakta mengerikan Covid-19.

Lalu orang mulai membentuk rutinitas baru, yang dalam hal ini bisa berupa kebiasaan minum jamu, kebiasaan bertransaksi daring, dan sebagainya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X