Ahli: Jakarta Layak Dijadikan Laboratorium Transportasi Indonesia

Kompas.com - 12/11/2020, 13:35 WIB
Antrean keluar penumpang MRT Jakarta mengular di Stasiun MRT Bundaran HI, Rabu (17/4/2019) KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DAntrean keluar penumpang MRT Jakarta mengular di Stasiun MRT Bundaran HI, Rabu (17/4/2019)

JAKARTA. KOMPAS.com - DKI Jakarta baru saja meraih penghargaan Sustainable Transport Awards (STA) 2021 dari Institute for Transportation & Development Policy (ITDP).

Sustainable Transport Awards (STA) merupakan ajang penghargaan tahunan yang diberikan kepada kota yang telah menunjukkan komitmen, kemauan politik, serta visi dalam bidang transportasi berkelanjutan dan pembangunan perkotaan.

Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan DKI Jakarta dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam hal kemajuan transportasi publik.

"Transportasi Jakarta ini dapat menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk dapat memajukan transportasi publiknya," kata Djoko kepada Kompas.com, Kamis (12/11/2020).

Baca juga: Pertama Kali, Jakarta Menangi Sustainable Transport Award 2021

Djoko menjelaskan, bukan kali pertama DKI Jakarta mendapat prestasi tentang kemajuan sektor trapsortasi publiknya.

Pada tahun lalu, Jakarta juga mendapatkan anugerah sebagai “honorable mention” di ajang STA 2019 yang diumumkan di Fortaleza, Brazil.

Dengan meraih penghargaan dari STA tersebut DKI Jakarta mengalahkan kota-kota besar di dunia, seperti San Fransisco (Amerika Serikat), Frankurt (Jerman), Auckland (Selandia Baru), Moscow (Rusia), Buenos Aires (Argentina) dan Sao Paulo (Brazilia).

Karenanya, daerah-daerah lain di Indonesia sebetulnya tidak perlu lagi mencari contoh jauh ke luar negeri.

Menurutnya, DKI Jakarta sudah sangat layak dijadikan sebagai laboratorium transportasi perkotaan di Indonesia.

Untuk menata kemajuan transportasi seperti di DKI Jakarta, lanjut Djoko memang butuh keseriusan dan komitmen yang tinggi terutama antara pemerintah pusat dan daerah.

Dia menilai, bahwa pemerintah daerah umumnya tidak memiliki komitmen yang tinggi untuk menata trasportasi publik di daerahnya. Masalah lainnya juga soal anggaran yang terbatas tak seperti DKI Jakarta.

"Anggaran yang minim, tidak sebesar DKI Jakarta, juga jadi halangan," ujar dia.

Djoko menambahkan, bahwa pada tahun 2019 anggaran yang dibutuhkan untuk membangun transportasi di ibu kota mencapai Rp 605 triliun.

Dana itu dipakai untuk menambah armada dan jangkauan Transjakarta, MRT, serta kereta ringan (LRT).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X