Di Jakarta, 21.501 Unit Apartemen Tak Terjual

Kompas.com - 16/09/2020, 07:00 WIB
Ilustrasi apartemen ThinkstockIlustrasi apartemen

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor properti masih belum bangkit dari keterpurukannya. Hal ini terbukti dari kinerja penjualan apartemen di Jakarta, yang tidak kunjung mengalami perbaikan.

Menurut laporan Leads Property Indonesia terdapat 21.501 apartemen yang tidak laku di pasaran hingga 31 Agustus 2020.

Rinciannya, sebanyak 4.843 unit merupakan apartemen untuk kelas menengah bawah dengan rentang harga Rp 16 juta-Rp 20 juta per meter persegi

Kemudian 10.554 unit untuk apartemen kelas menengah atas dengan kisaran harga Rp 20 juta-Rp 40 juta per meter persegi.

Dan upper class atau mewah dengan rentang harga di atas 40 juta per meter persegi.  

Baca juga: Ini Apartemen Murah Dekat Stasiun Kereta dan LRT

Berdasarkan distribusi wilayah, kawasan Jakarta Selatan mendominasi apartemen tak laku dengan jumlah 9.186 unit.

Disusul kawasan Jakarta Barat dengan 5.927 unit. Kemudian Jakarta Utara 2.234, dan Jakarta Pusat 1.441 unit.

Khusus CBD Jakarta terdapat 2.713 unit yang merupakan apartemen dengan klasifikasi mewah. 

CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono mengatakan selain faktor perlambatan yang telah terjadi sejak tiga tahun terakhir akibat lesunya ekonomi global, dan Pandemi Covid-19 yang memperparah keadaan, juga pengetatan kredit pemilikan apartemen (KPA).

"Ketatnya penyaluran KPA yang bergantung pada kebijakan masing-masing bank sangat berpengaruh. Langkah ini sebagai seleksi ya," kata Hendra menjawab Kompas.com, Selasa (15/9/2020).

Meski demikian, menurut Hendra, masih ada juga bank yang murah hati untuk tetap menyalurkan KPA-nya dengan persyaratan yang longgar.

Baca juga: Tiga Apartemen Murah di Bawah Rp 500 Juta

Hal ini dilakukan agar bisnis perbankan sebagai pemberi kredit tetap berjalan meski di tengah krisis kesehatan dan perlambatan ekonomi.

Sementara yang selektif, dipengaruhi payroll nasabah KPA, apakah terganggu, atau masih stabil. Yang masih stabil, kemungkinan besar akan lebih diutamakan.

Di sisi lain, banyak juga bank yang mengutamakan penyaluran KPA untuk apartemen baru khususnya yang dibangun oleh pengembang dengan reputasi positif.

"Jadi, itu juga tergantung dari profil nasabah masing masing bank. Bila sebagian besar payroll nasabah konsisten, maka bank akan tetap terus menyalurkan KPA," kata Hendra.

Ilustrasi apartemenShutterstock Ilustrasi apartemen
Secara umum, meski dalam kondisi aktivitas bisnis yang sangat sulit, pasar apartemen di Jakarta mengalami tambahan pasokan baru 2.756 unit.

Para pengembang memiliki ekspektasi yang cukup optimistis dengan meluncurkan proyek baru sepanjang Kuartal II-2020.

Akibatnya, pasokan kumulatif keseluruhan meningkat sebesar 1,1 persen secara kuartalan atau 1,4 persen secara tahunan (year to date) menjadi 257.445 unit.

Distribusi pasokan di Jakarta Utara sedikit meningkat karena sebagian besar unit yang baru diluncurkan, berlokasi di wilayah ini.

Baca juga: Alam Sutera Tawarkan Apartemen Blue Chip Rp 4 Triliun

Namun, Jakarta Timur dan Utara masih memiliki pasokan terbesar dari keseluruhan proporsi apartemen di Jakarta.

Adapun untuk matriks permintaan sangat dipengaruhi Pandemi Covid-19 yang berdampak pada daya beli. Hal ini mendorong masyarakat untuk memprioritaskan kebutuhan esensial.

Permintaan pun terus melambat, sehingga secara kumulatif tetap relatif stabil di angka 210.915 unit.

Akibatnya, harga jual tertekan. Pengembang pun memilih untuk mempertahankan harga karena sulitnya membukukan transaksi.

"Kenaikan harga dalam kondisi seperti itu dinilai sensitif bagi pembeli," imbuh Hendra.

Untuk diketahui, harga rata-rata keseluruhan apartemen di Jakarta mencapai Rp 25,24 juta per meter persegi, atau turun 1,2 persen secara kuartalan dan 1,6 persen secara tahunan.

Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen
Di CBD Jakarta, harga rata-rata turun tipis 0,3 persen secara kuartalan, dan 1,1 persen secara tahunan dengan posisi Rp 49,19 juta per meter persegi.

Penurunan harga juga terjadi di area primer yakni 1,0 persen secara kuartalan, dan 1,4 persen secara tahunan menjadi Rp 34,14 juta per meter persegi.

Dengan semakin banyaknya kasus Covid-19, para pengembang masih akan menghadapi kondisi yang sulit karena mereka harus dapat mengejar target serapan unit dan melanjutkan konstruksi sambil menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga: Saat Pandemi, Apartemen Rp 25 Miliar di Jakarta Justru Dibeli WNI

"Terutama untuk yang sedang dibangun dengan kinerja penjualan yang tidak signifikan," cetus Hendra.

Seiring dengan tekanan pertumbuhan ekonomi ke depan, sebagian besar potensi peluncuran apartemen baru diperkirakan akan tertunda.

Sejalan dengan kondisi tersebut, harga diperkirakan akan relatif stabil. Pasar akan menyerap unit-unit yang tidak atau belum terjual.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X