Saat Ekonomi Tiarap, Sinarmas Land Bangun Proyek

Kompas.com - 18/12/2018, 09:30 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk menghadapi tahun politik, para pengembang perlu sedikit keberanian tampil beda. Cara ini dipandang cukup efektif untuk menarik minat investor maupun pembeli dalam memboyong properti yang dibangun pengembang.

Managing Director Sinarmas Land Dhonie Rahajoe mengatakan setiap kali tahun politik dan kondisi keamanan tidak menentu, para pengembang cenderung tiarap.

Sementara pada saat yang sama, masih ada investor yang berniat menanamkan modalnya. Para investor itu pun akan mencari pengembang yang berani serta memiliki inovasi.

"Kalau saya lihat pada 1995 dan 1996, pada tiarap. Padahal, jongkok sedikit saja kelihatan. Investor itu bukan lihat yang tiarap. Justru kalau orang lagi leha-leha, kita harus bergerak," kata Dhonie di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Baca juga: Pertumbuhan Properti Saat Ini Lebih Didorong Faktor Infrastruktur

Oleh karena itu, dalam menghadapi Pemilu 2019 mendatang, Sinarmas Land tidak terlalu khawatir. Terlebih, bukan kali ini saja Indonesia menyelenggarakan pemilu.

Seperti pada tahun ini, Sinarmas meluncurkan beberapa proyek hunian. Baik itu yang digarap sendiri maupun berkongsi dengan perusahaan lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada Maret 2018, misalnya, Sinarmas meluncurkan Water Terrace, yaitu kawasan hunian seluas 1,6 hektar di Grand Wisata Bekasi. Produk hunian ini hanya tersedia 42 unit rumah berlantai 2 dan dibanderol mulai dari Rp 2,4 miliar.

Proyek lainnya yaitu Savasa di Kota Deltamas, Cikarang. Untuk proyek ini, Sinarmas berkongsi dengan PT Panasonic Homes Gobel Indonesia (PHGI), lewat anak usahanya yaitu PT Puradelta Lestari Tbk (PDL).

Kepemilikan proyek dibagi sebesar 49 persen kepada PDL dan 51 persen kepada Panasonic Group.

Kedua perusahaan tersebut membentuk perusahaan joint venture bernama PT PanaHome Deltamas Indonesia (PHDI) pada bulan November lalu, dan akan mengembangkan proyek hunian yang mencakup total area yang direncanakan seluas 37 hektar.

Kedua perusahaan ini telah mengucurkan investasi sebesar Rp 360 milyar untuk pembelian dan pengembangan lahan di tahap pertama.

Dhony menambahkan, dengan angka kebutuhan rumah atau backlog masih sangat tinggi, menandakan bahwa properti masih dibutuhkan masyarakat. Terutama, sektor perumahan bagi kalangan menengah ke bawah

Apalagi dengan pembangunan infrastruktur yang sangat masif dilakukan pemerintah. Hal ini diyakini akan menjadi faktor pendorong properti masih akan booming pada tahun depan.

"Properti itu kuncinya adalah lokasi. Jadi disediakan sarana infrastruktur, bagaiman pemerintah melakukan tools dan peraturan daerah yang bisa memberikan insentif," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X