BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kota Baru Parahyangan

Mengenal Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas di Kawasan Residensial

Kompas.com - 27/03/2021, 14:10 WIB
Ilustrasi warga memilah sampah berdasarkan jenis Dok. ShutterstockIlustrasi warga memilah sampah berdasarkan jenis

BANDUNG, KOMPAS.com – Hingga saat ini, pengelolaan sampah masih menjadi salah satu persoalan kompleks yang dihadapi kawasan perumahan di Indonesia.

Pasalnya, pengelolaan sampah masih bertumpu pada pendekatan sederhana, yaitu dikumpulkan, diangkut, dan bermuara di tempat pembuangan akhir (TPA).

Hal tersebut juga diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi mengelola sampah. Berdasarkan Laporan Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup Indonesia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, sebanyak 72 persen masyarakat Indonesia tidak peduli sampah. Selain itu, masyarakat juga belum terbiasa memilah dan mengelola sampah.

Alhasil, dari total 65,8 juta ton timbunan sampah, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2020, hanya 10 persen yang dapat didaur ulang. Sebanyak 60 persen diangkut dan ditimbun di TPA. Lalu, 30 persen sisanya tidak dikelola sehingga mencemari lingkungan.

Baca juga: Mau Punya “Home Sweet Home”? Pertimbangkan Faktor Lingkungan Sebelum Membeli Rumah

Dari jumlah itu, rumah tangga menghasilkan sampah paling besar, yakni 48 persen. Sisanya, 24 persen dihasilkan oleh pasar tradisional dan 9 persen oleh kawasan komersial.

Pengelolaan sampah dengan prinsip 3R

Masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkut ke TPA. Untuk mengatasinya, rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar harus didorong untuk ikut ambil bagian dalam mengelola sampah.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena itu, pengelolaan sampah berbasis komunitas merupakan kunci mengatasi masalah akut tersebut agar lingkungan hunian bersih dan sehat.

Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah berbasis komunitas bisa diimplementasikan dengan menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).

Baca juga: Cek Dulu Kemudahan Aksesibilitas Kawasan Sebelum Membeli Properti

Konsep 3R bertujuan untuk mengurangi sampah dari hulu (sumber), meminimalisasi pencemaran lingkungan, memberikan manfaat pada masyarakat, dan mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah.

Untuk diketahui, prinsip reduce adalah kegiatan mengurangi dan mencegah timbunan sampah. Dalam hal ini, masyarakat atau rumah tangga sebagai penghasil sampah bisa mereduksi sampah dengan mengubah pola konsumtif.

Selain itu, prinsip reduce bisa dilakukan dengan meminimalisasi barang yang digunakan. Semakin banyak material, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan

Kemudian, prinsip reuse berarti menggunakan kembali benda yang masih layak pakai agar tidak menjadi sampah. Misalnya, menggunakan kertas bolak-balik, menggunakan kembali botol kemasan minuman sebagai tempat air, atau mengisi bekas botol sabun dengan sabun refill.

Baca juga: Dambakan Kawasan Hunian yang Sehat? Properti di Kota Penyangga Patut Dilirik

Sementara, recycle berarti mendaur ulang kembali suatu bahan yang sudah tidak berguna menjadi bahan lain untuk dijadikan produk baru. Sebagai contoh, mengolah sisa kain perca menjadi selimut, kain lap, maupun keset.

Peran developer

Untuk memaksimalkan praktik pengelolaan sampah berbasis komunitas, diperlukan sinergi beberapa pihak, termasuk developer kawasan residensial. Developer dapat menjadi jembatan untuk menginisiasi program pengelolaan sampah tersebut.

Sebagai contoh, developer kawasan residensial Kota Baru Parahyangan (KBP) Lyman Group. Tak ingin terjebak dalam persoalan pengelolaan sampah, pengelola KBP mengajak warga untuk ikut serta memilah dan mengolah sampah rumah tangga.

Pengelolaan Sampah dan Material adalah serangkaian program yang dilakukan secara bertahap oleh Kota Baru Parahyangan dalam rangka menuju zero waste. Program tersebut adalah Pengolahan sampah organik kawasan, dan Aktivasi pengelolaan sampah rumah tangga melalui kampanye dan pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga.Dok. Kota Baru Parahyangan Pengelolaan Sampah dan Material adalah serangkaian program yang dilakukan secara bertahap oleh Kota Baru Parahyangan dalam rangka menuju zero waste. Program tersebut adalah Pengolahan sampah organik kawasan, dan Aktivasi pengelolaan sampah rumah tangga melalui kampanye dan pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga.

Hal itu dilakukan pengelola KBP dengan menginisiasi pembentukan komunitas Hayu Hejo. Cara ini diharapkan bisa mengurai persoalan sampah dan menghasilkan kawasan hunian yang ramah lingkungan.

Baca juga: Kota Baru Parahyangan Kembangkan Hunian Eco Smart Home Tatar Tarubhawana

Direktur PT Belaputera Intiland—anak perusahaan Lyman Group—Ryan Brasali mengatakan, Hayu Hejo merupakan wujud komitmen KBP dalam pengembangan kota mandiri berkelanjutan dengan menyeimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, maupun sosial masyarakat.

“Hayu Hejo adalah wadah untuk gerakan lingkungan berkelanjutan. Ini sebagai salah satu dari tiga aspek pengembangan berkelanjutan KBP, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan,” ujar Ryan kepada Kompas.com, Kamis (18/2/2021).

Di masa depan, lanjut Ryan, KBP akan menjelma menjadi kota yang memberi ruang kehidupan ideal dan berkelanjutan (sustainable living).

Lewat komunitas tersebut, KBP mengajak penghuni untuk berpartisipasi mengelola sampah rumah tangga. Sejumlah program pun digelar, salah satunya adalah pelatihan pemilahan sampah, baik organik, anorganik produktif, dan sampah khusus.

Baca juga: IKEA Kota Baru Parahyangan Buka 28 Maret, Cek Cara Registrasinya!

Pemilahan dan pengolahan sampah di KBP terbagi menjadi tiga, yaitu sampah organik, anorganik, dan residu. Di setiap klaster, KBP menyediakan sentra pengumpulan sampah untuk memudahkan penghuni memilah sampah rumah tangga.

Adapun sampah organik yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Sementara, sampah anorganik didaur ulang sesuai jenis, seperti plastik, kardus, dan kertas.

“KBP berupaya melakukan pengelolaan sampah kawasan secara mandiri, meliputi sampah rumah tangga, dan sampah hasil pemeliharaan taman. Dengan demikian, sampah yang terbuang ke luar kawasan jumlahnya akan minimum,” kata Ryan.

Dampak dari sistem pengolahan sampah ini, menurut Ryan, lingkungan tempat tinggal di KBP jadi lebih asri dan sehat.

Baca juga: Investasi Rp 1 Triliun, IKEA Buka Cabang di Kota Baru Parahyangan

Selain mengelola sampah, beberapa aktivitas lain gerakan Hayu Hejo adalah pengelolaan air, penghematan energi, menggalakkan kegiatan olahraga, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya KBP untuk mengembangkan kawasan residensial yang berkelanjutan dan ideal.

Selain mengelola sampah, beberapa aktivitas lain gerakan Hayu Hejo adalah pengelolaan air, penghematan energi, menggalakan kegiatan olahraga, meningkatkan kesadran gaya hidup sehat, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya KBP untuk mengembangkan kawasan residensial yang berkelanjutan dan ideal.

Adapun konsep pengembangan dan peran developer KBP dalam pengelolaan kawasan residensial menjadi nilai tambah tersendiri.

Bagi Anda yang menginginkan konsep residensial berkelanjutan, memiliki hunian di KBP merupakan pilihan bijak. Terlebih, kota mandiri ini punya beragam keunggulan selain konsep residensial berkelanjutan.

Dok. Kota Baru Parahyangan Dok. Kota Baru Parahyangan

Ryan menjelaskan, untuk menunjang sebuah kota mandiri, KBP juga membangun town center dan commercial area.

Baca juga: Jika Proyek Kereta Cepat Selesai, Bandung Barat Disebut Bakal Berkembang Pesat

Saat ini, lanjut Ryan, terdapat sejumlah brand internasional yang bergabung di KBP, seperti IKEA, Parahyangan Golf, Cellini, ELLINI, bank-bank ternama, dan restoran fast food. Selain itu, dibangun pula sarana rekreasi water theme park yang direncanakan beroperasi pada 2022.

Adapun pengembangan fasilitas pendidikan, baik formal maupun informal bertaraf nasional, nasional plus, dan internasional mulai dari playgroup hingga universitas juga sudah termasuk di dalamnya.

KBP juga memiliki keunggulan dari segi aksesibilitas. Berlokasi strategis di barat Kota Bandung, KBP mudah diakses, baik dari Bandung, Jakarta, Cirebon, Tasikmalaya, maupun Jawa Tengah. Pasalnya, kawasan ini berada di dekat gerbang Tol Padalarang dan Pasteur.

Dari arah Jakarta, Bogor, maupun Cianjur, KBP bisa diakses lewat Tol Cipularang dan Jalan Raya Padalarang.

Konsep rumah pintar ditunjukkan lewat pengaplikasian sederet teknologi terkini. Beberapa di antaranya adalah smart door lock system, display keypad module yang terkoneksi dengan smartphone, dimmer lamp pada ruang keluarga dan ruang tidur utama, dan power system untuk TV maupun air conditioner (AC).
Dok. Kota Baru Parahyangan Konsep rumah pintar ditunjukkan lewat pengaplikasian sederet teknologi terkini. Beberapa di antaranya adalah smart door lock system, display keypad module yang terkoneksi dengan smartphone, dimmer lamp pada ruang keluarga dan ruang tidur utama, dan power system untuk TV maupun air conditioner (AC).

Baca juga: Pemerintah Segera Kembangkan Padang sebagai Kota Mandiri

Kemudian, calon pembeli yang datang dari arah Bandung, Sumedang, Cirebon, dan Jawa Tengah, bisa mengaksesnya lewat Tol Cipali. Adapun dari Tasikmalaya, KBP bisa diakses lewat Tol Purbaleunyi dari arah gerbang Tol Cileunyi.

Tak hanya itu, proyek infrastruktur lain yang bakal menunjang aksesibilitas KBP ke depan adalah flyover di simpang Padalarang. Flyover Padalarang itu dibangun mulai dari Pintu Tol Padalarang hingga akses menuju KBP dengan panjang 350 meter.

Tersedia pula sarana transportasi umum shuttle bus yang sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC) untuk rute KBP - Leuwi Panjang dan KBP - Alun-alun Bandung. Fasilitas ini disediakan dengan harga terjangkau.

Produk baru KBP

Pada 2021, KBP mempersembahkan produk rumah tapak baru sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.

Baca juga: Kota Mandiri dan Nol Sampah Akan Dibangun di Belanda

Konsep hunian seperti itu diwujudkan di klaster terbaru KBP, yakni Tatar Tarubhawana. Di klaster tersebut, KBP menyediakan dua tipe rumah dengan konsep rumah tumbuh.

Pertama, tipe rumah tapak dua lantai. Tipe ini memiliki luas bangunan 94 meter persegi dan luas tanah 120 meter persegi.

Kedua, tipe rumah sudut dua lantai yang memiliki luas bangunan 99 meter persegi dan luas tanah 165 meter persegi. Kedua rumah tersebut dibanderol pada kisaran harga Rp 1,7 miliar hingga Rp 2 miliar.

Rumah klaster Tatar Tarubhawana mengusung konsep rumah tumbuh modern. Tipe rumah tapak dua lantai memiliki luas bangunan 94 meter persegi dan luas tanah 120 meter persegi. Sementara, tipe rumah sudut dua lantai yang memiliki luas bangunan 99 meter persegi dan luas tanah 165 meter persegi.Dok. Kota Baru Parahyangan Rumah klaster Tatar Tarubhawana mengusung konsep rumah tumbuh modern. Tipe rumah tapak dua lantai memiliki luas bangunan 94 meter persegi dan luas tanah 120 meter persegi. Sementara, tipe rumah sudut dua lantai yang memiliki luas bangunan 99 meter persegi dan luas tanah 165 meter persegi.

Untuk tampilan dan tata letak, KBP menyajikan desain kompak berlanggam arsitektur gaya Modern Tropical House. Fitur unggulan rumah di klaster ini adalah fitur eco-smart home, kombinasi antara rumah ramah lingkungan dan pintar.

Baca juga: Tips Sukses Broker Properti di Era Pandemi

Fitur ramah lingkungan diimplementasikan lewat solar panel untuk menghemat penggunaan energi listrik konvensional.

Sebagai informasi, KBP menerapkan pembangunan hunian yang selaras dengan alam.

Hal tersebut diwujudkan dengan dipertahankannya kontur bukit dan Danau Saguling yang ada di area KPB dalam proses pembangunan hunian. Rancang bangun infrastruktur pendukung di KBP pun diselaraskan dengan kontur alami lembah.

Selain itu, pengembang juga memperhatikan ketersediaan sirkulasi udara yang baik, pencahayaan alami, dan ruang terbuka hijau atau taman yang dekat dengan rumah.

Baca juga: Kota Mandiri, Lokasi Ideal untuk Tempat Tinggal

Saat ini, KBP memiliki ruang publik yang luas dan hijau untuk mendukung aktivitas masyarakat di luar rumah, seperti olahraga, rekreasi, dan bermain.

Tak hanya itu, KBP juga menghadirkan taman tematik “The Science of Trees” di Tatar Tarhubhawana. Area ini bisa digunakan sebagai tempat terdekat untuk beraktivitas di luar rumah.

Untuk semakin mendukung hunian yang sehat dan berkualitas, setiap rumah di klaster ini memiliki area balkon di depan ruang tidur lantai atas. Area ini dapat dioptimalkan untuk menciptakan pengalaman yang menyatu dengan alam yang asri.

Sementara itu, konsep rumah pintar ditunjukkan lewat pengaplikasian sederet teknologi terkini. Beberapa di antaranya adalah smart door lock system, display keypad module yang terkoneksi dengan smartphone, dimmer lamp pada ruang keluarga dan ruang tidur utama, dan power system untuk TV maupun air conditioner (AC).

Baca juga: JORR 2 Segera Beroperasi, Kota Mandiri Baru Diprediksi Tumbuh

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tatar Tarubhawana dari Kota Baru Parahyangan, Anda bisa klik tautan ini atau menghubungi (022) 680 3888.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya