Penulis
Jika tiga tahun lalu, mereka fokus pada properti dengan harga di atas Rp 1,5 miliar dengan keuntungan tinggi, kini harus realistis bermain di segmen di bawah Rp 1 miliar.
"Sekarang dalam kondisi belum naik, pengembang mulai melihat lagi, apalagi dalam kondisi pandemi, yang dibutuhkan pasar adalah kelas menengah-menengah," imbuh Anton.
Realita ini membuat harga per meter persegi tidak akan mengalami perubahan. Untuk menyiasati agar tetap memperoleh profit margin, pengembang merancang ukuran fisik properti lebih kecil.
Selain itu, pengembang juga menyiasati pembiayaan dengan menggandeng perbankan dan memberlakukan bunga KPR/KPA rendah sekitar 4 persen dengan tenor maksimal 30 tahun, uang muka ringan, dan kelengkapan furnitur (fully furnished product).
Penyesuaian-penyesuaian inilah yang disebut dengan kondisi buyer's market.
Penyesuaian lainnya yang dilakukan pengembang adalah menerapkan diskon harga riil yang bukan lagi basa-basi. Tujuannya adalah agar produk mereka dapat terjual maksimal.
"Jadi, tren ke depan adalah akan makin banyak pengembang yang melansir produk dengan harga terjangkau karena kebutuhan terbesar berasal dari kalangan milenial dan menengah," papar Anton.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.