Properti Terkoreksi, Sudah Bukan Zamannya Tiap Senin Harga Naik

Kompas.com - 10/07/2020, 08:00 WIB
Ilustrasi membeli rumah. SHUTTERSTOCK/CHIRAPHANIlustrasi membeli rumah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kampanye jor-joran "Senin Harga Naik" yang dilakukan banyak pengembang untuk memasarkan propertinya, tampaknya bukan pilihan cerdas jika masih dilakukan pada saat sekarang.

Menurut CEO Leads Property Hendra Hartono, strategi pemasaran tersebut merupakan gimmick jadul (kuno) yang justru malah menjadi bumerang.

"Pada masa seperti sekarang ini gimmick-gimmick semacam itu bisa bikin pembeli makin pesimistis ya. Jangankan saat krisis seperti sekarang, tahun-tahun sebelumnya pun sudah tidak efektif lagi," kata Hendra menjawab Kompas.com, Kamis (9/7/2020).

Hal ini karena harga sudah terkoreksi sejak sektor properti mengalami perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Terutama untuk sisa stok yang belum terjual pada tahun lalu.

Baca juga: Harga Rumah di Jakarta Lebih Mahal ketimbang New York dan Tokyo

Oleh karena itu, dia tidak menyarankan pengembang memainkan gimmick kenaikan harga yang cenderung tidak riil.

"Sebaliknya, stok yang ada bisa dijual secara bulk (dalam jumlah besar) dengan harga 30 persen lebih rendah (diskon) untuk konsumen yang mampu membayar secara tunai keras," ujar Hendra.

Meski terkoreksi, namun Hendra tidak sepakat bila harga properti sekarang disebut sudah menggambarkan keseimbangan atau ekuilibrium antara pasokan riil (real supply) dan permintaan riil (real demand).

Dia menganggap fluktuasi masih terjadi, karena kebutuhan properti sejatinya akan terus ada.

Bagi konsumen end user yang memiliki kemampuan daya beli dan memang membutuhkan, akan membeli properti.

Ilustrasi apartemen
buzzbuzzhome.com Ilustrasi apartemen
Sementara, bagi investor yang memegang fulus kontan bakal menunda pembelian dan memilih menyimpannya di bank dalam bentuk deposito.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X