Kompas.com - 16/03/2020, 16:30 WIB
Ilustrasi rupiah ShutterstockIlustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam kurun 2019-2024, Indonesia akan mencatat pertumbuhan tercepat kelima di dunia dalam populasi individu berpendapatan ultra tinggi atau ultra high net worth individual  (UHNWI).

Survei Knight Frank melaporkan, pertumbuhan populasi UHNWI Negara ini dengan pendapatan bersih lebih dari 30 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 447,8 miliar akan mencapai 57 persen menjadi 1.060 orang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip, dengan pencapaian ini Indoensia berada di posisi lima besar dengan pertumbuhan tercepat di bawah India, Mesir, Vietnam, dan China.

Sementara secara global, pertumbuhan populasi UHNWI dunia dalam lima tahun mendatang akan berada pada angka 27 persen menjadi 650.000 jiwa.

Baca juga: Pasar Apartemen untuk Orang Kaya Tajir Melintir Tak Pernah Surut

"Posisi Asia sebagai pusat kekayaan akan terus bertahan pada periode ini dengan perkiraan tumbuh 44 persen," ujar Willson dalam riset yang diterima Kompas.com, Senin (16/3/2020).

Pertumbuhan jumlah UHNWi ini didorong oleh kelas menengah. Dan pasar-pasar berkembang seperti India, Vietnam, China, Indonesia, dan Malaysia diperkirakan akan melampaui tingkat pertumbuhan UHNWI di negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura.

Negara-negara yang menjadi pusat kekayaan dunia tersebut, menurut Willson, sudah mengalami kejenuhan.

Berikut peringkat pertumbuhan populasi individu dengan kekayaan bersih lebih dari 30 juta dollar AS selama lima tahun 2019-2024.

1. India 73 persen
2. Mesir 66 persen
3. Vietnam 64 persen
4. China 58 persen
5. Indonesia 57 persen
6. Tanzania 54 persen
7. Swedia 47 persen
8. Romania 42 persen
9. Selandia Baru 37 persen
10. Malaysia 35 persen

Survei ini dilaksanakan pada November 2019 dengan 620 penasihat kekayaan yang mengelola sekitar 3.3 triliun dollar AS atas nama para UHNWI di seluruh dunia.

Para responden di Asia Pasifik mengatakan, pelambatan ekonomi global sebagai isu terpenting yang memengaruhi kemampuan para UHNWI dalam menciptakan atau mempertahankan kekayaan mereka pada 2020.

Faktor-faktor lain yang diperkirakan akan memengaruhi kekayaan UHNWI wilayah ini termasuk ketegangan AS-China dan volatilitas atau perubahan nilai tukar.

Hampir tiga perempat atau 70 persen UHNWI mengalokasikan 28 persen kekayaannya di sektor properti, sementara 21 persen untuk ekuitas, dan 19 persen pada obligasi.

Willson menuturkan, meskipun pasar properti mengalami berbagai tantangan dan tekanan beberapa tahun terakhir, termasuk dampak Covid-19 yang diharapkan dapat segera diatasi; optimisme masih ada.

Hal itu tecermin dari pengembangan infrastruktur, keberadaan pasar residensial di segmen menengah ke bawah dan potensi kekayaan yang masih prospektif.

"Fakta ini diharapkan berdampak positif pada kondisi pasar properti dan pertumbuhan ekonomi Nasional," tuntas Willson.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.