Pasar Apartemen untuk Orang Kaya "Tajir Melintir" Tak Pernah Surut

Kompas.com - 18/07/2019, 07:00 WIB
Ruang keluarga Raffles Residences Ciputra Property Ruang keluarga Raffles Residences

JAKARTA, KOMPAS.com - Ciputra Group akan kembali melepas unit-unit Raffles Residences awal tahun 2020. Menyusul relaksasi ketentuan batas nilai hunian mewah yang dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Apartemen mewah nan eksklusif yang berada di kompleks pengembangan superblok Ciputra World 1 Jakarta ini dihentikan pemasarannya sejak tiga tahun lalu, atau 2016 sampai sekarang.

Padahal, harga jualnya sudah menyentuh angka Rp 33 miliar untuk tipe 400 meter persegi atau Rp 82,5 juta per meter persegi per 2014.

Baca juga: Apartemen Rp 43,4 Miliar Dibayar Kontan, Enggak Pake Nyicil

Menurut Direktur Ciputra Group Artadinata Djangkar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 86/PMK.010/2019 tentang Perubahan atas PMK Nomor 35/PMK.010/2017 tentang Jenis Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Selain Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah akan sangat membantu mendorong pasar properti mewah semakin bergairah.

"Awal tahun depan kami akan pasarkan kembali sebanyak 20 persen unit Raffles Residence yang masih tersisa. Harga barunya masih digodok," ungkap Arta kepada Kompas.com, Rabu (16/7/2019).

Sebagaimana Sun and Moon Apartment besutan Tokyo Tatemono, dan Le Parc garapan PT Putragaya Wahana, Raffles Residences juga dirancang sebagai hunian untuk kalangan ultra high net worth individual (UHNWI).

Baca juga: Profil Pembeli Apartemen Rp 43,4 Miliar Tunai Bukan OKB Tanggung

Mereka yang dapat dikategorikan tajir melintir ini memiliki kekayaan minimum 5 juta dollar AS atau setara Rp 70,6 miliar.

Ceruk pasar ini, menurut CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono tak pernah surut. Hanya memang tidak segegap gempita kelas menengah atas, atau menengah-menengah.

"Penjualan apartemen mewah memang tidak seagresif dan secepat kelas di bawahnya. Karena harganya yang sangat mahal, dan kuantitasnya pun terbatas. Proses konstruksinya pun butuh waktu bertahun-tahun, karena mengutamakan kualitas," tutur Hendra.

Hal senada dikemukakan CEO KG Global Development Harry Gunawan. Menurut dia, untuk membangun apartemen Regent Residence, pihaknya butuh waktu enam tahun.

"Tiga tahun khusus untuk mengurus perizinan saja. Selebihnya konstruksi fisik. Saat sudah serah terima pun tidak bisa langsung ke tangan konsumen. Harus menunggu persetujuan atau approval dulu dari Intercontinental Hotel Group (IHG) sebagai pemilik brand  Regent," papar Harry.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X