Menakar Potensi Komersial dan Kualitas Hidup di TOD MRT Jakarta

Kompas.com - 21/11/2019, 20:42 WIB
Stasiun MRT Senayan, Kamis (14/4/2019). KOMPAS.com/CYNTHIA LOVAStasiun MRT Senayan, Kamis (14/4/2019).

Total luas public activities area  untuk pengembangan TOD ini adalah 21 hektar yang akan dilengkapi dengan 149,1 kilometer pedestrian path, 73,9 hektar ruang parkir terbuka, dan 56.854 meter persegi active riverbank area.

Baca juga: Fase II MRT Jakarta Bunderan HI-Ancol Barat Butuh Rp 22,5 Triliun

Untuk merealisasikan semua ini, dibutuhkan dana hampir separuh potensi pendapatan atau sekitar Rp 120 triliun.

Jelas bukan anggaran yang tak sedikit, untuk itu dibutuhkan investasi dari sektor swasta, terutama para pengembang properti serta pemilik lahan dan gedung di sekitar kawasan TOD tersebut.

Sebagaimana dikatakan Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso, bahwa kendati TOD MRT Jakarta menawarkan competitive advantage (keuntungan kompetitif), namun harga lahan dan properti di sekitarnya sudah sangat tinggi.

Selain itu, di sekitar TOD yang ditawarkan, lahan kosong nyaris tidak tersedia. Sebaliknya, kawasan-kawasan tersebut sarat gedung-gedung bertingkat, dan juga rumah-rumah padat penduduk.

Dengan demikian, mewujudkan kawasan-kawasan TOD ini akan menjadi pekerjaan yang sangat menantang bagi PT MRT Jakarta.

"Tak hanya itu, secara komersial juga, jika pemerintah menargetkan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), harus disertai skema subsidi silang agar feasible," kata Tulus kepada Kompas.com, Kamis (21/11/2019).

Untuk itu, Tulus menyarankan, skema kerja sama paling cocok antara PT MRT Jakarta sebagai perusahaan milik pemerintah daerah, dengan swasta adalah Kerja Sama Operasi (KSO).

Skema subsidi silang ini, memang akan ditempuh PT MRT Jakarta yakni berupa kombinasi pengembangan apartemen untuk MBR, kelas menengah, dan kelas atas.

Baca juga: Merayakan Satu Semester MRT Jakarta

Porsinya, imbuh Tuhiyat, akan disesuaikan dengan masing-masing kawasan TOD. Seperti TOD Dukuh Atas sebagai yang perdana direalisasikan, jelas sudah sangat tinggi nilai lahan dan propertinya, kelas menengah dan atas mungkin akan lebih dominan.

"Namun yang pasti, kami akan tetap mengakomodasi kebutuhan MBR di kawasan TOD ini," tegas Tuhiyat.

Dengan pengembangan TOD ini, Tuhiyat berharap, terjadinya perubahan gaya hidup dengan beralih ke transportasi publik, sebagai promosi peralihan kebiasaan dari berkendara menjadi aktivitas berjalan kaki melalui penataan jalur pedestrian, serta terwujudnya perbaikan kualitas lingkungan dengan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor.

"Dengan begitu, kualitas hidup masyarakat perkotaan bisa lebih meningkat," tuntas dia.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X