Kompas.com - 04/07/2018, 21:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Laju urbanisasi masyarakat dalam beberapa waktu terakhir cukup pesat. Di satu sisi, urbanisasi memiliki dampak positif, namun di sisi lain potensial berdampak negatif bagi perkembangan wilayah perkotaan.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Sri Hartoyo mengatakan, Indonesia merupakan negara di Asia dengan tingkat urbanisasi tertinggi.

"Pada 2035, jumlah masyarakat yang tinggal di kawasan urban mencapai 68 persen. Pertumbuhan ini menjadi peluang yang harus ditangkap," kata Sri dalam diskusi tentang smart city dengan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi Korea Selatan di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Baca juga: Urusan Kawasan Kumuh, Jakarta Bisa Belajar dari Paris

Ia mengaku, urbanisasi memang memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun bila tidak dikendalikan, urbanisasi justru akan menimbulkan kantung-kantung pemukiman kumuh di perkotaan.

"Kita tahu bahwa tmunculnya pemukiman kumuh merupakan dampak ketidakmampuan masyarakat untuk mengakses layanan infrastruktur dasar. Terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)," tutur Hartoyo.

Infrastruktur dasar itu meliputi akses terhadap layanan penyediaan air minum, sanitasi, sistem pengelolaan air limbah dan persampahan hingga drainase pemukiman.

Namun di lain pihak, kekurangan ini seharusnya menjadi sebuah peluang bagi berbagai pihak untuk membantu pemerintah dalam merancang pembangunan kota yang berkelanjutan.

Pemukiman Warga dengan tampilan berwarna warni di wilayah Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (25/3/2018). Pemprov DKI Jakarta melakukan program pengecatan kampung warna-warni di kawasan Danau Sunter untuk memperindah lingkungan sekaligus guna mengubah kesan kumuh kawasan tersebut.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pemukiman Warga dengan tampilan berwarna warni di wilayah Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (25/3/2018). Pemprov DKI Jakarta melakukan program pengecatan kampung warna-warni di kawasan Danau Sunter untuk memperindah lingkungan sekaligus guna mengubah kesan kumuh kawasan tersebut.
Terlebih saat ini pemerintah Indonesia tengah mengembangkan kawasan smart city serta transit oriented development (TOD), sebagai salah satu solusi penyediaan kawasan hunian layak huni di berbagai kota besar.

"TOD tengah menjadi perhatian pemerintah terutama dalam menyajikan hunian terjangkau bagi masyarakat yang memiliki penghasilan rendah," kata dia.

Baca juga: Smart City, Cara Korsel Kurangi Ketidaknyamanan Tinggal di Kota

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.