Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Posisi Indonesia di Antara Jalur Sutera dan Potret Hegemoni China

Kompas.com, 4 September 2017, 19:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorHilda B Alexander

Jalur sutera berkonotasi kisah sejarah peradaban ketika langkah manusia, kuda, dan kapal-kapal mengangkut beragam barang eksotis ke mancanegara. Kisah romantis para pionir China yang menembus batas-batas spasial dan lintas kerajaan, meramaikan pusat-pusat pasar, dan simpang dagang di sepanjang jalurnya.

Pusat-pusat peradaban seperti Konstantinopel, Bursa, Antioch, Allepo, Damascus, Baghdad, Hamadan, Tashkent, Samarkand, Almaty, dan Kathmandu, menjadi bagian tak terpisahkan yang membawa kita ke kisah-kisah Seribu Satu Malam nan romantis sekaligus mistis.

Sementara jalur sutera laut menyambungkan legenda patriotik dan kejayaan pusat-pusat dagang seperti Ningbo, Ghuangzou, Goa, Muscat, Vijaya di Kmher, Hanoi, Pasai, Perlak, dan Sriwijaya.

Tak pelak jalur sutera merupakan bagian penting dari peradaban dan perkembangan kota-kota dan manusianya. Kejayaan teknologi, alih budaya, penyebaran inovasi bidang kesenian, ilmu pengetahuan, dan dogma, serta agama berjalan di koridor tersebut.

Selain itu berbagai wabah penyakit seperti campak dan influenza, dan berbagai penyakit sosial pun menyebar luas melalui pergerakan manusia yang terhitung masif saat itu.

Keamanan pun menjadi persoalan besar, bahkan lambang pertahanan negara paling masif sepanjang sejarah manusia yaitu Tembok China, dibangun spesifik untuk mengamankan jalur sutera ini.

Inilah infrastruktur keamanan buatan manusia yang termegah dan raksasa. Satu-satunya buatan manusia di planet ini yang dapat dilihat dari bulan!

Lengkap sudah, jalur sutera menjadi ikon peradaban manusia. Jalur ini selama ratusan tahun menjadi bagian penting dari tumbuh kembangnya kejayaan berbagai kota dunia. Ini dicirikan dengan vibrancy, atau semangat kehidupan warganya.

Kereta barang China yang menyusuri Jalur Sutera telah diba di Barking, London, setelah melewati tak kurang dari 14 negara. Barking berjarak 12.000 km dari Yiwu, China.Reuters Kereta barang China yang menyusuri Jalur Sutera telah diba di Barking, London, setelah melewati tak kurang dari 14 negara. Barking berjarak 12.000 km dari Yiwu, China.
Ruang-ruang publik tercipta, dengan berbagai utilitas dan fasilitas untuk warga kota berkegiatan. Tercipta pasar-pasar skala lokal maupun regional, termasuk pola kegiatan barter komoditas skala mikro maupun global. Diyakini, suka atau tidak, jalur sutera telah banyak memengaruhi bagaimana dunia bertumbuh.

Bagi dunia, kebangkitan kembali politik dagang jalan sutera melalui Belt and Road Initiatives disambut dengan berbagai respon. Agresivitas China dalam menghidupkan koridor ekonomi jalur sutera darat dan laut terlihat nyata dalam determinasi pembangunan infrastruktur regional dan antar benua.

Tidak tanggung tanggung, menyatukan benua dan lautan menjadi koridor dagang dan ekonomi, dengan China menjadi motor utama penggeraknya.

Ekonomi motor ini bergerak secara global dengan kekuatan penuh. Bahkan bank pembangunannya, China Development Bank dengan aset 2,3 triliun dollar AS, memiliki aset hampir 5 kali aset World Bank dan Asian Development Bank (ADB) jika disatukan. Atau hampir 2,3 kali GDP Indonesia!

Selain akan mengubah perdagangan dan sistem pembayaran modern ke depan, aktifnya institusi finansial China juga memberikan kesempatan berdikari, dan kemiskinan pun akan berubah wajah.

Singapura sebagai hub ekonomi dan bisnis besar di kawasan Asia Tenggara dan Asia pun sudah jauh hari menyongsong era baru ini.

Ketika saya hadir di Regional Business Forum Singapore 2017 yang diadakan di Singapura Agustus lalu, terlihat determinasi hub ini untuk mendapatkan manfaat besar dari perkembangan korporasi sutera baru, atau paling tidak bertahan agar tidak tergerus oleh ekonomi lainnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau