Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/06/2016, 15:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan transportasi perkotaan menjadi salah satu isu yang kini hangat diperbincangkan di kota-kota besar di Indonesia.

Beragam cara dan konsep ditawarkan, mulai dari transit oriented development (TOD) hingga pembangunan akses jalan bagi non-kendaraan pribadi.

Cara lainnya yang bisa dilakukan demi mewujudkan transportasi perkotaan berkelanjutan dan mampu mengurai kemacetan adalah dengan pembatasan jumlah kendaraan pribadi.

Pembatasan kendaraan pribadi, menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit dibagi menjadi dua pendekatan, yakni instrumen fisik dan instrumen fiskal.

"Pendekatan instrumen fisik ini seperti kebijakan ganjil genap sudah usang dan mesti ditinggalkan lalu segera berganti ke instrumen fiskal," ungkapnya saat ditemui di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Instrumen fiskal, lanjut Danang dapat diimplementasikan melalui cara-cara seperti menaikkan harga beli kendaraan, menaikkan biaya parkir, mengenakan biaya tambahan besar saat pembelian kendaraan, dan bahkan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Danang lantas menyampaikan apa yang terjadi di Singapura terkait instrumen fiskal ini.

"Di Singapura ada yang namanya certificate of entitlement. Jadi itu sertifikat buat orang yang beli mobil, misalnya harga mobilnya Rp 300 juta tapi sertifikatnya sendiri mencapai Rp 1 miliar," jelas dia.

Penerapan instrumen fiskal, lanjut Danang sangat mampu mengontrol perilaku masyarakat terutama dalam hal pembelian dan penggunaan kendaraan pribadi.

Kendati begitu, sebelum menerapakan kebijakan seperti itu pemerintah ada baiknya memperbaiki dulu sistem dan alat transportasi umum sehingga masyarakat nyaman dan aman dalam menggunakannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+