Bisnis yang Bakal "Moncer" Tahun Ini, Jual Rumah Murah - Kompas.com

Bisnis yang Bakal "Moncer" Tahun Ini, Jual Rumah Murah

Kompas.com - 21/01/2016, 12:32 WIB
www.shutterstock.com Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Para analis dan pelaku usaha properti sepakat bahwa sektor properti masih melambat, tetapi segmen pasar menengah ke bawah justru masih kuat. 

Rumah dengan harga di bawah Rp 500 juta akan mendominasi pasar dan diprediksi mencatat tingkat penjualan signifikan ketimbang properti dengan harga di atasnya.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, memastikan bahwa penjualan rumah murah akan jauh lebih menguntungkan ketimbang properti kelas atas.

"Konsumen yang beli adalah mereka yang benar-benar membutuhkan. Dan untuk saat ini, bisnis rumah murah justru semakin menguat," ujar Ferry kepada Kompas.com, di sela-sela acara Business Forum Property and Bank 2016 di Jakarta, Kamis (21/1/2016). 

Hal ini diamini oleh Ketua DPD REI DKI Jakarta, Amran Nukman. Menurut dia, bisnis rumah murah tidak ada matinya. Hal ini mengacu pada pengalaman beberapa pengembang, sebut saja PT Metropolitan Land Tbk (Metland) dan PT Ciputra Residences.

"Satu dekade lalu, Metland menjual Metland Menteng di perbatasan Jakarta Timur. Harga awalnya hanya Rp 200 juta-Rp 300 jutaan. Itu diserbu pembeli, dan sekarang harga tembus ke angka Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar," ungkap Amran.

Sementara PT Ciputra Residence yang menawarkan hunian seharga Rp 100 jutaan di Maja (Banten), kata Amran, juga meraup penjualan luar biasa. Sebanyak 2.000 unit terjual hanya dalam satu kali pameran.

Saat ini, perumahan bertajuk Citra Maja Raya tersebut terserap lebih dari 7.000 unit dengan nilai penjualan lebih dari Rp 1 triliun.

"Selain murah dan memang sangat dibutuhkan pasar, kebanyakan rumah-rumah tersebut dikembangkan di lokasi dengan akses mudah dijangkau, seperti jalur tol, jalur arteri, atau jalur transportasi berbasis rel," tutur Amran.

Gurihnya bisnis rumah murah juga memincut perhatian pengembang yang selama ini lebih fokus di kelas menengah atas. 

www.shutterstock.com Ilustrasi.
PT Ciputra Property Tbk, misalnya, akan memulai perhatian pada kelas pasar menengah ke bawah tahun ini dengan merilis produk seharga Rp 16 juta hingga Rp 20 juta per meter persegi. 

Berubahnya fokus garapan perseroan dari segmen pasar kelas atas ke kelas menengah bawah, kata Arta, karena kelas ini tidak terlalu sensitif terhadap isu makro-ekonomi.

"Kelas ini juga secara fundamental merupakan owner occupier," imbuhnya. (Baca: Prospek Bisnis Properti 2016)

Sementara segmen pasar yang lebih atas merupakan pembeli yang tidak merasa "harus" membeli karena mereka sudah memiliki properti.

Jadi, segmen pasar ini paling sensitif terhadap isu makro ekonomi, politik, kebijakan, dan sebagainya.

"Saya rasa, biarpun tahun ini ada perbaikan, masih akan ada isu-isu makro seperti itu. Dan yang paling sensitif adalah kelas atas," pungkas Arta.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X