Posisi Indonesia di Antara Jalur Sutera dan Potret Hegemoni China - Kompas.com

Posisi Indonesia di Antara Jalur Sutera dan Potret Hegemoni China

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 04/09/2017, 19:00 WIB
Rangkaian kereta barang pertama di Jalur Sutera telah tiba di Barking, London timur, setelah melewati perjalanan 12.000 km dari Yiwu, Cina.
Reuters Rangkaian kereta barang pertama di Jalur Sutera telah tiba di Barking, London timur, setelah melewati perjalanan 12.000 km dari Yiwu, Cina.

Jalur sutera berkonotasi kisah sejarah peradaban ketika langkah manusia, kuda, dan kapal-kapal mengangkut beragam barang eksotis ke mancanegara. Kisah romantis para pionir China yang menembus batas-batas spasial dan lintas kerajaan, meramaikan pusat-pusat pasar, dan simpang dagang di sepanjang jalurnya.

Pusat-pusat peradaban seperti Konstantinopel, Bursa, Antioch, Allepo, Damascus, Baghdad, Hamadan, Tashkent, Samarkand, Almaty, dan Kathmandu, menjadi bagian tak terpisahkan yang membawa kita ke kisah-kisah Seribu Satu Malam nan romantis sekaligus mistis.

Sementara jalur sutera laut menyambungkan legenda patriotik dan kejayaan pusat-pusat dagang seperti Ningbo, Ghuangzou, Goa, Muscat, Vijaya di Kmher, Hanoi, Pasai, Perlak, dan Sriwijaya.

Tak pelak jalur sutera merupakan bagian penting dari peradaban dan perkembangan kota-kota dan manusianya. Kejayaan teknologi, alih budaya, penyebaran inovasi bidang kesenian, ilmu pengetahuan, dan dogma, serta agama berjalan di koridor tersebut.

Selain itu berbagai wabah penyakit seperti campak dan influenza, dan berbagai penyakit sosial pun menyebar luas melalui pergerakan manusia yang terhitung masif saat itu.

Keamanan pun menjadi persoalan besar, bahkan lambang pertahanan negara paling masif sepanjang sejarah manusia yaitu Tembok China, dibangun spesifik untuk mengamankan jalur sutera ini.

Inilah infrastruktur keamanan buatan manusia yang termegah dan raksasa. Satu-satunya buatan manusia di planet ini yang dapat dilihat dari bulan!

Lengkap sudah, jalur sutera menjadi ikon peradaban manusia. Jalur ini selama ratusan tahun menjadi bagian penting dari tumbuh kembangnya kejayaan berbagai kota dunia. Ini dicirikan dengan vibrancy, atau semangat kehidupan warganya.

Kereta barang China yang menyusuri Jalur Sutera telah diba di Barking, London, setelah melewati tak kurang dari 14 negara. Barking berjarak 12.000 km dari Yiwu, China.Reuters Kereta barang China yang menyusuri Jalur Sutera telah diba di Barking, London, setelah melewati tak kurang dari 14 negara. Barking berjarak 12.000 km dari Yiwu, China.
Ruang-ruang publik tercipta, dengan berbagai utilitas dan fasilitas untuk warga kota berkegiatan. Tercipta pasar-pasar skala lokal maupun regional, termasuk pola kegiatan barter komoditas skala mikro maupun global. Diyakini, suka atau tidak, jalur sutera telah banyak memengaruhi bagaimana dunia bertumbuh.

Bagi dunia, kebangkitan kembali politik dagang jalan sutera melalui Belt and Road Initiatives disambut dengan berbagai respon. Agresivitas China dalam menghidupkan koridor ekonomi jalur sutera darat dan laut terlihat nyata dalam determinasi pembangunan infrastruktur regional dan antar benua.

Tidak tanggung tanggung, menyatukan benua dan lautan menjadi koridor dagang dan ekonomi, dengan China menjadi motor utama penggeraknya.

Ekonomi motor ini bergerak secara global dengan kekuatan penuh. Bahkan bank pembangunannya, China Development Bank dengan aset 2,3 triliun dollar AS, memiliki aset hampir 5 kali aset World Bank dan Asian Development Bank (ADB) jika disatukan. Atau hampir 2,3 kali GDP Indonesia!

Selain akan mengubah perdagangan dan sistem pembayaran modern ke depan, aktifnya institusi finansial China juga memberikan kesempatan berdikari, dan kemiskinan pun akan berubah wajah.

Singapura sebagai hub ekonomi dan bisnis besar di kawasan Asia Tenggara dan Asia pun sudah jauh hari menyongsong era baru ini.

Ketika saya hadir di Regional Business Forum Singapore 2017 yang diadakan di Singapura Agustus lalu, terlihat determinasi hub ini untuk mendapatkan manfaat besar dari perkembangan korporasi sutera baru, atau paling tidak bertahan agar tidak tergerus oleh ekonomi lainnya.

Sejak 2016, tak kurang dari 76 miliar dollar AS, bisnis infrastruktur dari kesempatan yang berkaitan dengan jalur sutera baru ini, di mana Singapura memosisikan dirinya sebagai konektor dan kegiatan pembiayaan di bidang infrastruktur.

Tol Trans-Sumatera di Lampung.Dokumentasi Hutama Karya Tol Trans-Sumatera di Lampung.
Dalam prosesnya, kota Singapura pun terus dikembangkan menjadi kota metropolitan kelas dunia yang semakin vibrant, dan tanpa ragu mengaplikasikan rancangan kota modern yang sesuai untuk menyambut misinya sebagai konektor jalur sutera baru.

Indonesia di Simpang Jalan

Sangat jelas dalam berbagai forum jalur sutera kini, Indonesia menjadi bagian sangat signifikan. Bahkan Presiden China pun dalam banyak kesempatan terlihat secara eksplisit menjadikan Indonesia mitra penting BRI.

Dengan kebutuhan 500 Miliar dollar AS dana infrastruktur, Indonesia bak primadona yang menyerap pesona investor. Dengan APBN yang hanya akan dapat memenuhi tak lebih dari 40 persen kebutuhan tersebut sampai 2019, merupakan ceruk besar bagi pemain pembiayaan dunia.

Apabila semangat jalur sutera modern ini digambarkan saat ini, kira-kira akan seperti apa?

Penguasaan konektivitas tidak hanya dalam infrastruktur fisik, namun juga penguasaan fintech, jalur komunikasi global, payment gateways, sistem investasi aset-aset infrastruktur, properti, dan permodalan.

Namun, bedanya dengan zaman jalur sutera dahulu kala, saat ini semua negara, dan masyarakat dapat mengambil manfaat dari pertarungan ekstra keras untuk mendapatkan investasi ini. Inovasi, jaringan, keandalan SDM, dan peraturan setempat akan menjadi penentu siapa yang menjadi pemenang.

Dalam kaitan jalur sutera, maka konektivitas, dan perkotaan menjadi tumpuan utama. Tantangan Indonesia untuk memanfaatkan dana besar yang ada pun, berkisar di sektor kereta api, jalan, pelabuhan, transportasi perkotaan, dan kawasan industri.

Dengan 30 kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa, dan 7 metropolitan utamanya, sebagai bagian dari 10 besar ekonomi dunia, Indonesia sangat memerlukan pendanaan infrastruktur.

Keterbatasan pendanaan infrastruktur dasar, memberikan tekanan berat bagi kota kota kita. Apalagi kalau dihubungkan dengan keinginan untuk membangun kota-kota layak huni yang mampu memberikan ruang tumbuh yang inklusif bagi warganya.

Foto dari udara suasana simpang susun Jalan Tol Pejagang-Pemalang, Ruas Pejagan-Brebes Timur, Minggu (26/6/2016). Ruas yang merupakan bagian dari tol Trans Jawa itu telah siap untuk mendukung kelancaran arus mudik Lebaran nanti.KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Foto dari udara suasana simpang susun Jalan Tol Pejagang-Pemalang, Ruas Pejagan-Brebes Timur, Minggu (26/6/2016). Ruas yang merupakan bagian dari tol Trans Jawa itu telah siap untuk mendukung kelancaran arus mudik Lebaran nanti.
Niscaya, kebutuhan pembiayaan infrastruktur perkotaan seperti penyediaan air bersih, perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pengelolaan sampah, pengolahan air limbah, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Ada dua hal yang bisa menjadi pilihan Indonesia dalam hal ini:

1. Mengemukakan agenda pengembangan wilayah, yaitu memanfaatkan sebesar-besarnya keuntungan yang didapat dari kegiatan jalur sutera untuk mengembangkan daerah, mengurangi ketimpangan dan mengentaskan kemiskinan.

Bagi kota-kota, ini berarti turunnya jumlah kawasan kumuh, ketersediaan air bersih bagi warga dan meningkatkan Human Development Index (HDI) kita.

2. Memanfaatkan kerja sama bilateral dan multilateral untuk program mempermudah akses warga terhadap pilihan-pilihan yang ada di dunia, baik untuk pengembangan kemampuan manusianya, maupun meningkatkan tingkat daya saing kota.

Semua harus smart dan efisien, termasuk transportasi perkotaan, konektifitas kota-kota pesisir, dan membangun perbatasan serta daerah terluar.

Pertanyaan mendasarnya, siapa aktor terpenting yang harus menjadi ujung tombak langkah kita menyongsong era koridor sutera baru ini?

Jelas salah satunya, adalah para perencana. Para perencana wilayah dan kota sebagai profesi, diharapkan dapat menjadi penyusun arah sekaligus pengendali pemanfaatan ruang dalam proses percepatan pembangunan infrastruktur ini.

Lalu siapkah para perencana kita menghadapi era baru ini?

Kendaraan melintas di samping proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Cibubur-Cawang di Tol Jagorawi, Cibubur, Jakarta, Kamis (10/8/2017). Pengerjaan proyek pembangunan LRT Jabodetabek yang meliputi tiga rute, yaitu  rute Cibubur-Cawang sepanjang 14,5 km telah mencapai 37 persen, rute Bekasi Timur-Cawang sepanjang 17,1 km telah mencapai 17 persen sementara rute Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 km baru mencapai tiga persen. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww/17.ANTARA FOTO/Aprillio Akbar Kendaraan melintas di samping proyek pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Cibubur-Cawang di Tol Jagorawi, Cibubur, Jakarta, Kamis (10/8/2017). Pengerjaan proyek pembangunan LRT Jabodetabek yang meliputi tiga rute, yaitu rute Cibubur-Cawang sepanjang 14,5 km telah mencapai 37 persen, rute Bekasi Timur-Cawang sepanjang 17,1 km telah mencapai 17 persen sementara rute Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 km baru mencapai tiga persen. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww/17.
Segerakan quick wins, karena beberapa proyek besar sudah siap jalan. Ada banyak proyek infrastruktur yang siap jalan dan akan membantu percepatan pembangunan wilayahnya. Sebutlah kawasan ekonomi khusus (KEK) di Palu dan pelabuhan Pantoloannya, Sei Mangkei dan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, sistem waste to energy di perkotaan, Pelabuhan Cruise di Bali, destinasi pariwisata di Danau Toba, dan sebagainya.

Ada beberapa pengetahuan dan informasi yang akan sangat kritis bagi perencana untuk bisa efektif mengikuti perkembangan akibat Belt and Road Initiatives ini. Antara lain, tren bisnis dan komersial di regional, kondisi fiskal dan rezim perpajakan yang berkaitan dengan sektor infrastruktur, berbagai kemungkinan pola pembiayaan infrastruktur baik langsung maupun Kemitraan Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), Pembiayaan Infrastruktur Non APBN (PINA), multilateral, maupun kesempatan pembiayaan melalui kerjasama bilateral.

Inilah waktunya para perencana keluar dari zona nyaman, dan mulai berpikir out of the box, dan melakukan rencana tata ruang yang berkelanjutan untuk berbagai infrastruktur prioritas seperti light rail transit (LRT) perkotaan, kereta cepat, kawasan ekonomi khusus (KEK), pelabuhan hub, dan sebagainya.

EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM