Sosrobahu, Temuan Bersejarah dalam Dunia Konstruksi Indonesia

Kompas.com - 24/04/2021, 20:03 WIB
Penutupan sementara ini dalam rangka penggantian nama Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Desember 2019, serta merujuk Surat Izin Menteri PUPR Nomor BM.07.02-Mn/635, tanggal 8 April 2021. Kementerian PUPRPenutupan sementara ini dalam rangka penggantian nama Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Desember 2019, serta merujuk Surat Izin Menteri PUPR Nomor BM.07.02-Mn/635, tanggal 8 April 2021.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernahkah Anda mengira bahwa selama pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek (Japek) atau Tol Japek II Elevated, minim kemacetan?

Ya, hal ini karena pembangunan jalan bebas hambatan berbayar yang kini bernama Jalan Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ) tersebut, menggunakan teknologi Landas Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau lebih dikenal sebagai Sosrobahu.

Bukan teknologi mutakhir, tetapi Sosrobahu sudah lama ditemukan dan lebih dahulu diterapkan pada 27 Juli 1988 untuk pembangunan Tol Wiyoto Wiyono atau Tol Cawang-Tanjung Priok.

Sejak saat itu, teknologi Sosrobahu sudah tak lagi digunakan, bak ditelan bumi. Dan, baru-baru ini saja digunakan kembali pada pembangunan Tol Layang Japek.

Baca juga: Sosrobahu Kurangi Kemacetan akibat Proyek Tol Layang Jakarta-Cikampek

Lantas, bagaimana awal ditemukannya teknologi yang melancarkan pembangunan dua jalan bebas hambatan di Indonesia tersebut?

Mengutip Harian Kompas edisi 7 Agustus 1988, teknologi tersebut awalnya ditemukan oleh insinyur sekaligus Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) yang menjabat kala itu yakni, Tjokorda Raka Sukawati.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Raka, panggilan akrabnya mengklaim, teknologi itu merupakan yang pertama di dunia dalam bidang angkat dan putar beban berat, orisinal, dan berdasarkan rumus fisika mekanika.

Seperti telah disebutkan, teknologi ini pertama kali ditemukan dan digunakan pada pembangunan Tol Wiyoto Wiyono.

Pada saat itu, Raka ditunjuk sebagai ketua manajemen proyek dan harus memutar otak untuk membangun tol tersebut.

Para pekerja sedang memotong tiang-tiang penyangga untuk jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok. Beberapa tiang harus dipotong agar diperoleh ketinggian yang sama. Meski demikian, pekerjaan memotong tiang beton, bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, upaya ini harus dilakukan oleh beberapa pekerja. (22 Januari 1988)KOMPAS/KARTONO RYADI Para pekerja sedang memotong tiang-tiang penyangga untuk jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok. Beberapa tiang harus dipotong agar diperoleh ketinggian yang sama. Meski demikian, pekerjaan memotong tiang beton, bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, upaya ini harus dilakukan oleh beberapa pekerja. (22 Januari 1988)
Pasalnya, jalan bebas hambatan itu dibangun di atas jalan yang sudah ada dan padat kendaraan.

Putra Bali ini pun mengusulkan agar pembangunan Tol Wiyoto Wiyono dilakukan dengan cara konvensional.

Mulai dari bekisting, pembangunan segmental, hingga menggantung blok beton dengan beban 480 ton.

Namun, usulan itu ditolak anggota tim ahli lainnya lantaran berpotensi mengganggu arus lalu lintas, memakan waktu, dan biaya serta berisiko tinggi.

Pantang menyerah, dia lalu mengusulkan untuk membuat kepala tiang yang akan diputar menggunakan alat pemutar.

Kemudian, baru dipasang bekisting kepala tiang atau sejajar dengan jalan di tengah. Setelah beton cukup kuat, bekisting pun bisa diputar.

Tak disangka-sangka, gagasan tersebut akhirnya diterima oleh anggota tim ahli lainnya.

Namun, persoalan baru muncul, bagaimana ide Raka tersebut bisa diwujudkan.

"Saya berusaha tenang, karena kalau mau berpikir normal, pendapat mereka ada benarnya. Memutar beban seberat 450 ton memang bukan pekerjaan mudah, itulah tantangan terbesar yang harus saya hadapi dan selesaikan," ungkap Raka.

Baca juga: Teknologi Sosrobahu Lahir Setelah Penemunya Utak-atik Mercy

Saat sedang bingung dan tak tahu harus berbuat apa, Raka tetap menjalankan aktivitas dan hobinya mengotak-atik Mercedes Benz keluaran Tahun 1974 kesayangannya itu.

Ketika bersiap memperbaiki kendaraannya, bagian depan mobil kemudian diangkat dengan dongkrak.

Dengan demikian, menyisakan dua roda belakang yang bertumpu di lantai yang licin karena ceceran tumpahan oli.

Begitu disentuh, badan mobil berputar pada titik sumbu dongkrak sebagai penopang.

Rupanya, hal yang tidak disengaja ini menjadi inspirasi bagi Raka untuk melahirkan Sosrobahu.

Berbekal hukum fisika sederhana yaitu pascal untuk mengangkat beban dan memutarnya, Raka langsung mendesain peralatan yang menurut perhitungannya dapat mengangkat beban berat.

Saat melakukan percobaan pertama, dia mengalami kegagalan. Semua direksi datang menyaksikan saat pompa hidrolik dengan tekanan di atas 80 ton itu diputar.

Ir. Wiyoto Wiyono (nomor dua dari kanan) saat menjabat Dirut Jasa Marga, meninjau pelaksanaan proyek pembangunan jalan tol Cawang-Tanjung Priok, Jakarta, pada Juli 1988.Dok. KOMPAS Ir. Wiyoto Wiyono (nomor dua dari kanan) saat menjabat Dirut Jasa Marga, meninjau pelaksanaan proyek pembangunan jalan tol Cawang-Tanjung Priok, Jakarta, pada Juli 1988.
"Awalnya semua lancar, namun kemudian timbul masalah karena saat dilepas bagian atasnya tidak mau turun. Melihat kegagalan ini, semua direksi pergi, angkat tangan, dan menyerahkan semua urusan kepada saya," tutur Raka.

Tak berhenti sampai disitu, Raka lantas meminta bantuan beberapa kolega dalam menyempurnakan temuannya itu.

Singkat cerita, dia berhasil melakukan uji coba dan memberanikan diri menyampaikan keberhasilan temuannya ini ke Departmen Pekerjaan Umum (PU) dan anak Presiden kedua RI Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut.

Kala itu, Tutut menjabat sebagai Direktur Utama PT Jaya Lamtoro Gung (JLG).

JLG merupakan salah satu dari empat perusahaan nasional yang menggarap Tol Wiyoto Wiyono.

Selain JLG, ada tiga perusahaan lainnya yang berkontribusi pada pembangunan tol tersebut yaitu Hutama Karya, Krakatau Steel, dan perusahaan semen Tiga Roda.

Kepada Tutut, Raka meminta bantuan untuk dibuat sebuah pondasi berukuran 8 meter x 1,5 meter yang diisi pasir.

Baca juga: Saatnya Teknologi Sosrobahu Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Namun, tak hanya dibuatkan satu oleh Tutut, tetapi dibuat 16 buah sekaligus.

"Waduh, ini masalah baru, bagaimana jika saya gagal melakukan ini, berapa biaya yang akan terbuang sia-sia? Hal yang lebih penting lagi bagaimana saya akan mempertanggungjawabkan masalah ini," kenang Raka.

Raka pun khawatir berlebihan, jika hal itu gagal, karir dan reputasi yang telah lama dia bangun selama bertahun-tahun bisa hancur.

Saat bayang-bayang ketegangan membayanginya, Raka mengingat pesan Soeharto agar proyek pertama yang digarap secara nasional ini diselesaikan tepat waktu dan memiliki kualitas mumpuni.

Bahkan, Raka diminta agar menemukan hal-hal baru dalam pekerjaan itu.

Hingga akhirnya, 27 Juli 1988 silam, menjadi hari bersejarah bagi teknologi Sosrobahu, temuan Raka ini.

Sejumlah pengendara melintasi tol Wiyoto Wiyono untuk menghindari banjir di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (23/2/2020). Pengendara motor memasuki tol Wiyoto Wiyono untuk menghindari banjir di jalan jenderal Ahmad Yani. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah Sejumlah pengendara melintasi tol Wiyoto Wiyono untuk menghindari banjir di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (23/2/2020). Pengendara motor memasuki tol Wiyoto Wiyono untuk menghindari banjir di jalan jenderal Ahmad Yani.
Tepat pukul 22.00 WIB, ratusan mata bersiap menyaksikan pemutaran lengan beton seberat 440 ton tersebut.

Setelah melapor kepada Tutut, Raka lantas naik ke podium konstruksi. Saat berdoa, ia mengaku mendengar bisikan yang menyebut angka 78.

Raka lantas meminta tim untuk memulai proses pemutaran lengan beton. Berdasarkan perhitungan awal, seharusnya lengan benton diperkirakan bergerak pada tekanan 105 kilogram per sentimeter persegi.

Namun, dia meminta agar tim menggerakkan hingga mencapai tekanan 78 kilogram per sentimeter persegi.

Ajaibnya, lengan beton itu akhirnya berputar tepat saat tekanan berada pada angka 78.

"Badan saya gemetar, air mata bercucuran tanpa bisa saya tahan. Di bawah sorotan ratusan lampu kamera, riuh tepuk tangan, serta kumandang lagu Padamu Negeri saya menangis tersedu-sedu," kenang Raka.

Keberhasilan Raka ini pun dilirik banyak negara seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura yang menggunakan teknologi tersebut hingga saat ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X