Sosrobahu Kurangi Kemacetan akibat Proyek Tol Layang Jakarta-Cikampek

Kompas.com - 13/12/2017, 12:30 WIB
Proses pemasangan steel box girder proyek Jalan Tol Jakarta Cikampek II (Elevated), Selasa (7/11/2017) dini hari. PT Jasa Marga (Persero) TbkProses pemasangan steel box girder proyek Jalan Tol Jakarta Cikampek II (Elevated), Selasa (7/11/2017) dini hari.
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Sekitar 70.000 kendaraan melintasi Jalan Tol Jakarta-Cikampek setiap harinya. Dengan keterbatasan kapasitas jalan yang ada, tak heran bila hampir setiap hari jalan bebas hambatan itu macet.

Kondisi ini ditambah dengan adanya sejumlah pekerjaan proyek, mulai dari Light Rail Transit (LRT), Kereta Cepat Jakarta-Bandung, hingga pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II (Elevated).

Khusus pembangunan tol layang, PT Waskita Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor yang menggarap proyek sepanjang 36 kilometer ini, menggunakan teknologi double truss launcher (DTL) dan sosrobahu.

DTL merupakan sebuah alat berbentuk portal yang akan berdiri di atas jalan tol Jakarta-Cikampek dengan tujuan agar mobilisasi box girder tidak mengganggu aktivitas di ruas jalan tol. Pemasangan box girder pun telah dimulai sejak awal November lalu.

Sementara, untuk penerapan teknologi sosrobahu akan dimulai pada malam ini, Rabu (13/12/2017).

Menurut Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta, penggunaan teknologi sosrobahu memang cukup efektif diterapkan pada jalan dengan kondisi lalu lintas padat.

"Karena pertama, tentu dibikin pilar yang harus dibuat. Kemudian, waktu bikin gelagar induknya, nanti harus membentang jalan. Tapi untuk sementara dibuat sejajar dengan median jalan," kata Davy kepada KompasProperti, Selasa (12/12/2017).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bila menggunakan cara konvensional, maka seluruh jalan harus ditutup sehingga menimbulkan kemacetan. Akan tetapi dengan sosrobahu, pekerjaan pier head dapat dilakukan di pinggir jalan.

Setelah cor-coran kering, pier head tinggal diangkat ke atas pier shaft untuk kemudian diputar melintang.

Sementara itu, dari sisi biaya, pemakaian teknologi sosrobahu sedikit lebih mahal daripada menggunakan cara konvensional.

Hal itu disebabkan adanya kewajiban membayar paten pada penggunaan teknologi yang ditemukan insinyur asal Indonesia, Tjokorda Raka Sukawati.

Namun, jika melihat tingkat kepadatan arus kendaraan di jalan tol yang ada, maka nilai ekonomi yang ditimbulkan dalam penggunaan teknologi ini akan lebih tinggi.

Davy mengatakan, semakin tinggi kepadatan arus kendaran, semakin tinggi keuntungan penggunaan teknologi ini.

"Kalau misalnya jalannya relatif sepi, tidak ada gunanya kita gunakan teknologi ini," kata Davy.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X