Tinggal di Kawasan Padat Rentan Tertular Penyakit? Kota Ramah Pedestrian Jawabannya

Kompas.com - 16/11/2020, 12:11 WIB
Suasana sisa kebakaran yang menghanguskan perkampungan padat penduduk di Duri Selatan, Tambora, Jakarta Barat, Kamis (13/8/2020). Sebanyak 382 keluarga atau 987 warga kehilangan tempat tinggal dan satu pasar tradisional terbakar. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana sisa kebakaran yang menghanguskan perkampungan padat penduduk di Duri Selatan, Tambora, Jakarta Barat, Kamis (13/8/2020). Sebanyak 382 keluarga atau 987 warga kehilangan tempat tinggal dan satu pasar tradisional terbakar.

JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kehidupan kota dapat membuat penduduk rentan terhadap penyakit menular seperti tuberkulosis.

WHO menyebut tuberkolosis menular umumnya akibat kota yang padat dan ventilasi yang buruk. Tak hanya itu, penyakit lain yang dapat menular melalui air dan vektor adalah demam berdarah.

Berbeda dengan pernyataan tersebut, UN-Habbit, badan PBB untuk perumahan dan pembangunan perkotaan, mengatakan hidup di perkotaan yang lebih padat justru dapat membantu mencegah penularan penyakit.

Alasannya, karena penduduk memiliki akses yang lebih mudah untuk berobat dan menjangkau fasilitas kesehatan.

"Ya meskipun, tindakan seperti mengisolasi, tinggal di dalam ruangan dan mempraktikkan jarak sosial itu ya lebih sulit dilakukan dalam pengaturan kota yang sangat padat," kata Kepala Program Global Ketahanan Kota UN-Habitat Esteban Leon seperti dikutip Kompas.com dari laman weforum.org, Senin (16/11/2020).

Baca juga: Dunia Berlomba Ciptakan Area Publik Ramah Pandemi

“Namun, kota padat memang memberikan manfaat bahkan dalam krisis (pandemi Covid-19) seperti ini, misalnya akses ke layanan dasar dan perawatan medis,” ujarnya.

Menurutnya, tidak masalah sebenarnya tinggal di kota yang padat, terutama sejauh kota tersebut memiliki konsep, perencanaan dan penataan kota yang baik.

Manfaat dari kota padat yang terencana dengan baik termasuk waktu perjalanan yang lebih singkat, udara yang lebih bersih, dan pengurangan kebisingan serta konsumsi bahan bakar fosil dan energi.

Deretan kafe di kota Paris.Shutterstock Deretan kafe di kota Paris.
Beberapa pemimpin kota padat di dunia diketahui telah berupaya menciptakan komunitas perkotaan yang lebih dekat secara fisik.

Perkotaan yang padat ini dikelola sedemikian rupa menjadi lokasi yang nyaman dan aman terutama untuk mobilitas warganya dalam beraktivitas.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X