Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tinggal di Kawasan Padat Rentan Tertular Penyakit? Kota Ramah Pedestrian Jawabannya

WHO menyebut tuberkolosis menular umumnya akibat kota yang padat dan ventilasi yang buruk. Tak hanya itu, penyakit lain yang dapat menular melalui air dan vektor adalah demam berdarah.

Berbeda dengan pernyataan tersebut, UN-Habbit, badan PBB untuk perumahan dan pembangunan perkotaan, mengatakan hidup di perkotaan yang lebih padat justru dapat membantu mencegah penularan penyakit.

Alasannya, karena penduduk memiliki akses yang lebih mudah untuk berobat dan menjangkau fasilitas kesehatan.

"Ya meskipun, tindakan seperti mengisolasi, tinggal di dalam ruangan dan mempraktikkan jarak sosial itu ya lebih sulit dilakukan dalam pengaturan kota yang sangat padat," kata Kepala Program Global Ketahanan Kota UN-Habitat Esteban Leon seperti dikutip Kompas.com dari laman weforum.org, Senin (16/11/2020).

“Namun, kota padat memang memberikan manfaat bahkan dalam krisis (pandemi Covid-19) seperti ini, misalnya akses ke layanan dasar dan perawatan medis,” ujarnya.

Menurutnya, tidak masalah sebenarnya tinggal di kota yang padat, terutama sejauh kota tersebut memiliki konsep, perencanaan dan penataan kota yang baik.

Manfaat dari kota padat yang terencana dengan baik termasuk waktu perjalanan yang lebih singkat, udara yang lebih bersih, dan pengurangan kebisingan serta konsumsi bahan bakar fosil dan energi.

Perkotaan yang padat ini dikelola sedemikian rupa menjadi lokasi yang nyaman dan aman terutama untuk mobilitas warganya dalam beraktivitas.

Wali Kota Paris Anne Hidalgo misalnya, ingin membuat kota yang dipimpinnya itu, sebagai "kota 15 menit", atau mobilitas sehari-hari warganya adalah berjalan kaki singkat, bersepeda atau perjalanan menggunakan transportasi umum.

Hal itu dilakukan seperti untuk aktivitas bekerja, bersekolah, bahkan berbelanja memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tak hanya itu, pada 25 Maret, Wali Kota Barcelona Ada Colau pun mengumumkan rencana alokasi anggaran sebesar 4,4 juta euro (4,8 juta dollar AS) untuk membuat kota ramah bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda dengan tetap menerapkan protokol Covid-19.

Anggaran sebesar itu termasuk untuk pelebaran trotoar, pembuatan jalur sepeda tambahan sepanjang 21 kilometer (13 mil) dan jalur jalan pedestrian atau pejalan kaki sepanjang 12 kilometer (7,5 mil).

Program tersebut ditempuh terutama untuk mendukung penerapan sosial distancing antar warga dan sekaligus mendorong warga Jakarta untuk dapat layanan sepeda sebagai alat trasportasi yang aman di tengah pandemi Covid-19.

Pemprov DKI Jakarta diketahui hingga kini telah menyediakan lebih dari 200 sepeda gratis atau Bike Sharing.

Ratusan sepeda tersebut disebar di sembulan titik lokasi strategis yang umumnya berdekatan dengan akses traportasi publik seperti stasiun dan terminal.

Adapun, sembilan titik lokasi sementara bike sharing, Stasiun MRT Bundaran HI, Halte Bus Pelican Crossing Bundaran HI Sisi Timur, Halte Bus Pelican Crossing Bundaran HI Sisi Barat, Depan Gedung Sinar Mas, Halte Bus Balaikota Sisi Selatan, Stasiun Tanah Abang, Wali Kota Jakarta.

Seorang antropolog medis dari Universitas St Andrew di Skotlandia Christos Lynteris, mengatakan bahwa memperkuat layanan lokal untuk perjalanan akan mengurangi penyebaran infeksi atau virus. Tapi tidak seluruhnya.

Namun demikian, dia mengakui bahwa penyakit dan pengendalian penyakit tentu saja memiliki dampak besar terutama bagi perubahan perencanaan suatu kota.

Dia mencontohkan, wabah kolera dan demam kuning yang terjadi di Amerika itu justru berdampak pada perubahan perbaikan penataan kota seperti misalnya pembangunan sistem air limbah bawah tanah dan ruang hijau seperti Central Park di Kota New York.

"Tingkat keparahan penyakit ini mendorong departemen perencanaan kota, teknik, dan kesehatan masyarakat untuk bersatu," katanya.

Karenanya, pandemi Covid-19 dijadikan sejumlah ahli untuk melakukan berbagai terobosan termasuk menata ulang kota sehingga nantinya warga akan terbiasa dengan kebiasaan baru.

https://properti.kompas.com/read/2020/11/16/121145421/tinggal-di-kawasan-padat-rentan-tertular-penyakit-kota-ramah-pedestrian

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar