Satu Lagi Tengara Berdiri di Gresik Bernama Gardu Suling

Kompas.com - 22/09/2020, 18:55 WIB
Landmark Gardu Suling (Garling) yang berada di Perlimaan GNI, Gresik. KOMPAS.COM/HAMZAH ARFAHLandmark Gardu Suling (Garling) yang berada di Perlimaan GNI, Gresik.

GRESIK, KOMPAS.com - Satu per satu struktur yang dijadikan penanda sebuah kota atau tengara ( landmark) berdiri di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Terbaru, Gardu Suling (Garling) yang berada di tengah perlimaan Gedung Nasional Indonesia (GNI), diresmikan oleh Bupati Gresik Sambari Halim Radianto, Selasa (22/9/2020).

Garling merupakan hibah dari Pembangkit Jawa-Bali (PJB) unit Pembangkit Gresik kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik.

Garling menjadi penanda terbaru di Gresik, melengkapi Tugu Lontar di perempatan Kebomas, Keris Sumilang Gandring di perempatan Sentolang Jalan Veteran, serta Patung Gajah di perlimaan Petrokimia Gresik yang sempat menuai kontroversi.

Baca juga: Petrokimia Gresik Sulap SOR Tri Dharma Jadi Ruang Isolasi Darurat

General Manager PT PJB unit Pembangkit Gresik Ompang Reski Hasibuan mengatakan, Garling merupakan persembahan yang bisa dikenang sepanjang masa.

"Jangan dilihat seberapa besar nilai dan harganya, tapi lihat dari niat kami untuk memberikan sesuatu kepada Kabupaten Gresik," ujar Reski.

Tengara ini berdiri di tengah muara pertemuan arus lalu lintas yang mempertemukan antara Jalan Raya Pahlawan, Jaksa Agung Soeprapto, Panglima Sudirman serta akses menuju wisata religi salah satu Wali Songo, makam Maulana Malik Ibrahim.

Bupati Gresik Sambari Halim Radianto memberikan sambutan saat launching landmark Gardu Suling (Garling), Selasa (22/9/2020).KOMPAS.COM/HAMZAH ARFAH Bupati Gresik Sambari Halim Radianto memberikan sambutan saat launching landmark Gardu Suling (Garling), Selasa (22/9/2020).
Bupati Gresik Sambari Halim Radianto menambahkan, bangunan tersebut merupakan replika Gardu Suling yang berada di pertigaan Jalan Raden Santri, Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Basuki Rahmat.

Sambari masih mengingat, pada kurun tahun 1965 sampai 1972, Gardu Suling difungsikan sebagai penanda waktu berbuka puasa.

"Saat itu saya masih kecil, dan saya melihat masyarakat sangat merasakan sekali manfaat dari bunyi suling sebagai tanda berbuka puasa," kata Sambari.

Berkaca dari kisah itu, Garling kemudian dipasang pengeras suara yang mengarah keempat arah mata angin. Dengan harapan, bunyi yang dikeluarkan dapat didengar lebih luas oleh masyarakat sekitar.

Sambari menuturkan, sampai saat ini masih menunggu persetujuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik serta pengurus Masjid Jami Gresik, apakah Garling dapat dibunyikan sebagai pengingat waktu shalat lima waktu, dengan durasi sekitar 30 detik.

Pembangunan Garling yang menelan biaya sekitar Rp 800 juta sempat diprotes DPRD Gresik.

Mereka mempertanyakan peruntukan dana Corporate System Responsibility (CSR) yang dinilai kurang tepat sasaran, serta bangunan asli yang masih berdiri kokoh kendati terlihat kurang terurus.

 

 

 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X