Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jarak 1 Meter Antar-karyawan Bikin Perkantoran Tertekan hingga 2024

Kompas.com, 26 Mei 2020, 19:00 WIB
Putri Zakia Salsabila ,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan telah menerbitkan panduan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat kerja perkantoran dan industri dalam mendukung keberlangsungan usaha pada situasi pandemi.

Salah satu yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 328 Tahun 2020 tersebut adalah penerapan jarak minimal 1 meter antar-karyawan saat mereka bekerja.

Selain penerapan jarak antar-karyawan minimal 1 meter, selama masa Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB) pemerintah meminta setiap pemberi kerja membentuk tim penanganan Covid-19, dan membagi para karyawannya untuk bekerja di perkantoran atau bekerja di rumah.

Tentu saja hal ini akan mengubah pola permintaan dan pasokan ruang perkantoran baik di Jakarta, maupun kota-kota lainnya di Indonesia.

Baca juga: Covid-19, The X Factor yang Bikin Sektor Properti Luluh Lantak

Senior Director Office Services Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo memprediksi beberapa hal akan terjadi sebagai dampak dari kebijakan tersebut.

Menurutnya, penerapan jarak 1 meter antar-karyawan akan menciptakan penyesuaian luas ruang kantor yang disewa.

Tak hanya itu, dalam jangka akan ada perubahan jadwal bekerja karyawan. Sementara dalam jangka panjang, kemungkinan besar kebutuhan perkantoran akan mulai berkurang.

Hal ini karena secara umum sebagian perusahaan masih menerapkan pola kerja dari rumah atau  work from home (WFH) sebagai kebiasaan baru.

Dengan demikian, konsekuensinya pasar perkantoran masih akan terus tertekan, hingga tiga tahun mendatang yakni sampai 2024.

Namun, menurutnya siklus ini akan kembali membaik sebagaimana pertumbuhan perkantoran pada tahun 2011 lalu.

"No, it is a business cycle nanti kalau sudah balanced antara supply dan demand, saya yakin akan bangkit lagi seperti zaman keemasan perkantoran tahun 2011-2014," tuturnya menjawab pertanyaan Kompas.com, Selasa (26/5/2020).

Untuk keluar dari tekanan ini, Bagus merekomendasikan para pemilik atau pengelola perkantoran yang ingin tetap bertahan melewati siklus ini.

Mereka harus fleksibel dan komodatif terhadap permintaan penyewa. Termasuk menetapkan harga sewa yang kompetitif dan kompromis, sampai tingkat hunian mencapai 70 persen.

Bagi penyewa lama, Bagus merekomendasikan pemilik dan pengelola perkantoran untuk meninjau ulang kontrak sewa.

Dengan demikian, ada relaksasi kontrak yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.

"Setelah itu mereka bisa tahan harga," pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau