Kunjungan Turis Anjlok karena Corona, Bali Harus Manfaatkan Cara Lain

Kompas.com - 12/03/2020, 17:00 WIB
Para wisatawan ramai mengunjungi Goa Gajah, Kabupaten Gianyar, Bali, Senin (2/4/2018). Goa Gajah merupakan salah satu destinasi wisata di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik. KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELIPara wisatawan ramai mengunjungi Goa Gajah, Kabupaten Gianyar, Bali, Senin (2/4/2018). Goa Gajah merupakan salah satu destinasi wisata di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik.

KOMPAS.com - Kasus corona (covid-19) telah memengaruhi sektor pariwisata di seluruh dunia, tak terkecuali Bali.

Menurut riset Savills Indonesia, pariwisata Bali yang tumbuh 10,2 persen dalam kurun 2009-2019 akan mengalami penurunan karena wabah corona.

Hal ini menyusul larangan Pemerintah terhadap penerbangan dari China masuk ke Indonesia. Padahal, kontribusi kunjungan turis Negeri Tirai Bambu itu teramsuk terbesar bersama Australia.

Sejak 2017 China merupakan pasar utama untuk Bali dengan porsi mencapai 20 persen dari total jumlah wisatawan. Bahkan, pada 2018 kedatangan turis China ke Bali mencapai puncaknya.

Baca juga: Bisnis Hotel Bali Hadapi Tantangan Berat, Sampah dan Lingkungan

Dinas Pariwisata Bali mengatakan, pelarangan penerbangan ini mengakibatkan potensi kerugian sebesar Rp 1 triliun per bulan terhitung sejak Maret 2020.

Savills Indonesia mencatat, kedatangan turis China membuat laju pertumbuhan majemuk tahunan atau compound annual growth rate (CAGR) sepanjang 2010-2018 sebesar 27,4 persen, meskipun menunjukkan penurunan sebesar 13 persen pada 2019.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selama delapan tahun terakhir, kunjungan wisatawan China berdampak positif pada pertumbuhan hunian hotel di Bali.

Namun ini tidak terjadi pada pada pertumbuhan tarif rerata harian atau average daily rate (ADR).

Bali Hotel Association melaporkan, rerata lama menginap wisatawan China adalah empat hingga lima hari.

Sementara turis Australia, Amerika, dan Eropa rerata mengunap selama dua minggu hingga empat minggu.

Oleh karenanya, wisatawan Australia, Amerika, dan Eropa lebih memberikan kontribusi pada ekonomi di sektor pariwisata Bali.

Hal ini menunjukkan, pariwisata Bali berpeluang untuk kembali dan menargetkan wisatawan dari tempat lain.

Selain itu, Bali juga bisa lebih fokus dalam kekuatan belanja dibandingkan dengan volume pengunjung.

Dengan mendiversifikasi sumber-sumber perjalanannya, Bali pada akhirnya akan menikmati keuntungan yang lebih tinggi begitu pariwisata melambung.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X