Kisah Hasniati, Terbebas dari Utang Rentenir, Jadi Eksportir Saraba

Kompas.com - 27/11/2019, 23:22 WIB
1.838 warga dari 13 Kabupaten di Sulawesi Selatan, menerima sertipikat tanah hasil dari kegiatan Reforma Agraria, Redistribusi, dan Konsolidasi Tanah 2019, Selasa (26/11/2019). Biro Humas Kementerian ATR/BPN1.838 warga dari 13 Kabupaten di Sulawesi Selatan, menerima sertipikat tanah hasil dari kegiatan Reforma Agraria, Redistribusi, dan Konsolidasi Tanah 2019, Selasa (26/11/2019).

SOPPENG, KOMPAS.com - Betapa sertipikat tanah yang memiliki kekuatan hukum dan bernilai tinggi, mampu mengubah perekonomian masyarakat. 

Contoh nyata dari pemberdayaan sertipikat tanah ini adalah kegiatan ekspor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dilakukan oleh Hasniati ke berbagai negara di Eropa.

Perempuan berkerudung ini, sekarang aktif memenuhi pasar Eropa, khususnya Finlandia dengan produk Saraba, minuman tradisional khas Sulawesi Selatan.

"Kebetulan, bulan-bulan November dan Desember adalah musim dingin. Mereka membutuhkan minuman hangat, dan Saraba sangat mereka sukai," tutur Hasniati saat memberikan testimoni di sela-sela acara penyerahan sertipikat tanah hasil kegiatan Reforma Agraria, Redistribusi dan Konsolidasi Tanah, di Soppeng, Selasa (26/11/2019).

Sebelum mendapatkan sertipikat tanah, Hasniati kerap berutang kepada rentenir dengan besaran nominal sekitar Rp 1 juta. Dana pinjaman ini harus dikembalikan dengan bunga tinggi.

Baca juga: Hari Ini, Masyarakat Sulsel Terima 9.939 Sertipikat Tanah

Dari hasil pinjaman tersebut, usaha Saraba Hasniati tak kunjung berkembang. Sebaliknya, hanya menyisakan kewajiban membayar bunga dan pokok pinjaman.

Namun, keadaan berubah setelah warga Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja, ini mendapatkan sertipikat tanah dan menjadikannya sebagai aset agunan kepada Bank.

Dia kemudian mendapatkan kredit dari bank senilai Rp 100 juta.

"Dari pinjaman ini, kami kemudian mampu memproduksi lebih banyak Saraba dan juga dodol, dengan pemasaran dibina oleh Dinas Pertanian Soppeng," ucap Hasniati.

Kini, Hasniati mampu mencetak omset per bulan sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Menariknya, jika dulu pemasaran Saraba dan Dodol dilakukan sebatas kawasan tempat tinggal, kini merambah ke mancanegara.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X