TOD Dukuh Atas, Melting Point Bergengsi dengan Nilai Tinggi

Kompas.com - 22/11/2019, 08:00 WIB
Sekelompok pegiat kebaya, menggelar kampanye gerakan #SelasaBerkebaya di Stasiun MRT Dukuh Atas, Selasa (25/6/2019) siang. KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFARSekelompok pegiat kebaya, menggelar kampanye gerakan #SelasaBerkebaya di Stasiun MRT Dukuh Atas, Selasa (25/6/2019) siang.

Kemudian biutifikasi berupa pelapisan warna (cat), pelapisan alumunium composite panel (ACP), penataan penerangan, mural dengan melibatkan seniman lokal, #RuangBacaJakarta, dan microlibrary  Dukuh Atas berbasis digital.

 

"Semua orang bisa datang dan menikmati kawasan dengan penataan berkualitas tinggi di pusat Jakarta ini. TOD Dukuh Atas ibarat melting point warga dari berbagai wilayah," imbuh Tuhiyat.

Tentu, dengan transformasi yang dirancang sedemikian rupa membutuhkan anggaran besar. Tuhiyat menghitung, dana yang dibutuhkan untuk membangun TOD Dukuh Atas senilai Rp 24 trilliun.

Competitive advantage

Besar memang. Namun, Managing Partner of Strategic Advisory Coldwell Banker Tommy H Bastami menilai TOD MRT Jakarta, terlebih Dukuh Atas di pusat ibu kota yang harga lahannya sudah sangat mahal, akan menjadi magnet baru dengan competitive advantage (keuntungan kompetitif) tinggi.

"Ini nilai lebih yang bakal menarik para investor untuk bergabung," kata Tommy menjawab Kompas.com, Kamis (21/11/2019).

Karena secara umum, imbuh dia, hal ini sesuai dengan esensi TOD yang memiliki karakteristik kepadatan menengah sampai tinggi, walkable environment, minimum kebutuhan parkir, mixed use terintegrasi, dan terdapat pertemuan multi moda.

Selain itu, biaya pengembangan yang merupakan faktor sensitif, akan lebih efisien dibanding pengembangan konvensional di kawasan suburban Jakarta. 

Konsep integrasi antara residensial, komersial dan aktifitas bisnis, akses terhadap transportasi publik akan meluaskan area tangkapan (catchment area).

Baca juga: Fase II MRT Jakarta Bunderan HI-Ancol Barat Butuh Rp 22,5 Triliun

Juga density yang padat akan memberikan efisiensi pemanfaatan lahan, dan secara ekonomi sangat menarik bagi investor dan pengembang properti.

Karena investor dan pengembang tidak harus menyediakan biaya untuk membangun fasilitas parkir yang lebih luas, dan tidak harus menyiapkan biaya infrastruktur karena prinsip walkable ke berbagai aktifitas dan transportasi publik.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X