Fase II MRT Jakarta Bunderan HI-Ancol Barat Butuh Rp 22,5 Triliun

Kompas.com - 20/11/2019, 19:20 WIB
Stasiun MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI, Rabu (17/4/2019) KOMPAS.com/Ryana AryaditaStasiun MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI, Rabu (17/4/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan infrastruktur MRT Jakarta Fase II South-North Bunderan HI-Ancol Barat membutuhkan dana sekitar Rp 22,5 triliun.

Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, biaya konstruksi Fase II jauh lebih mahal ketimbang Fase I karena seluruh strukturnya dibuat underground (bawah tanah).

"Secara biaya, struktur underground dua kali lipat lebih mahal dibanding layang (elevated)," ungkap Tuhiyat saat MRT Jakarta Fellowship Program, di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Menurut Tuhiyat, angka sebesar itu pun kemungkinan bisa berubah, tergantung pada tingkat inflasi, dan harga material bangunan. 

Baca juga: MRT Jakarta Menuju World Class Operator

Pendanaan MRT Jakarta Fase II masih menggunakan skema three sub level agreement dengan status pinjaman ketat (tight loan) dari Pemerintahan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Disebut tight loan, karena seluruh mekanisme, aspek konstruksi, kontraktor pelaksana, dan rolling stocks, serta konsultansi berbau unsur Jepang.

"Skemanya masih menggunakan pinjaman JICA. Kami sudah terikat. Namun, untuk MRT Jakarta fase berikutnya, East-West Ujung Menteng-Kembangan, kami membuka peluang bagi investor manapun untuk mendanai proyek ini," tutur Tuhiyat.

Baca juga: Disebut Berulang-ulang, Berapa Harga Naming Rights Lebak Bulus Grab?

Saat ini, PT MRT Jakarta sedang membangun power hub di kawasan Monas, Jakarta Pusat, dengan Contract Package (CP) senilai Rp 200 miliar. Setelah itu, CP 201 untuk trase Bunderan HI-Harmoni mulai disiapkan.

Targetnya, konstruksi MRT Jakarta Fase II ini rampung pada 2024 mendatang.

Mulai 2025

Adapun pinjaman untuk Fase I Koridor Lebak Bulus-Bunderan HI, senilai Rp 16 triliun dengan tenor 40 tahun dan bunga di bawah 1 persen per tahun. 

Murahnya suku bunga inilah yang mendasari Pemerintah Indonesia memilih JICA sebagai kreditor pembangunan MRT Jakarta ketimbang tawaran pinjaman dari sindikasi perbankan dengan bunga sebesar 3 persen sampai 4 persen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X