Stasiun Kereta di Perumahan, Strategi Pengembang Kerek Harga Jual

Kompas.com - 14/08/2019, 07:00 WIB
Stasiun Metland Telaga Murni, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/6/2019).KOMPAS.com/DEAN PAHREVI Stasiun Metland Telaga Murni, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/6/2019).

BEKASI, KOMPAS.com - Perkotaan seyogianya terkoneksi dengan sarana transportasi publik yang murah, dan mudah diakses warganya.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan pelayanan maksimal berupa pembangunan infrastruktur transportasi yang dapat digunakan oleh semua kalangan.

Stasiun Metland Telaga Murni di Cibitung, Bekasi, yang baru saja diresmikan operasionalnya oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada Selasa (13/8/2019), merupakan contoh pengembangan perkotaan yang terintegrasi dengan transportasi massal.

"Kami saat ini tengah membangun angkutan massal, mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), dan bus rapid transit (BRT). Stasiun ini adalah contoh pertama kerja sama antara pemerintah dan swasta. Bentuk kerja sama ini akan dilakukan juga di tempat lain," tutur Budi menjawab Kompas.com

Menurut Budi, pelibatan dan kontribusi swasta tak sebatas membangun sarana dan prasarana saja. Pemerintah mengundang swasta secara bersama melakukan kolaborasi dalam skala yang lebih luas.

Baca juga: Metland Cetak Laba Rp 482 Miliar

Termasuk dalam implementasi konsep transit oriented development (TOD) di perumahan-perumahan skala kota atau township yang mengintegrasikan hunian, komersial, tempat aktivitas, sarana pendidikan, dan bekerja dalam satu kawasan.

"Itu yang dinamakan kota pintar. Kota yang bisa dijangkau ke mana-mana dengan mudah," imbuh dia.

Stasiun Metland Telaga Murni, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/6/2019).KOMPAS.com/DEAN PAHREVI Stasiun Metland Telaga Murni, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/6/2019).
Karena murah, dan mudah diakses itu pula, sejak masa uji coba pada Mei 2019 hingga akhir Juli 2019, jumlah penumpang melalui stasiun ini terus meningkat.

Rinciannya, sebanyak 30.648 penumpang terangkut selama Mei, kemudian naik menjadi 44.223 orang pada Juni, dan 53.534 penumpang hingga akhir Juli 2019.

"Hal ini menunjukkan bahwa permintaan pelayanan transportasi massal demikian tinggi. Terutama di kawasan-kawasan yang dekat permukiman," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfamendi.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X