BTN Nyatakan Siap Jadi Mitra BP Tapera

Kompas.com - 28/05/2019, 15:28 WIB
Ilustrasi BTN.Dok. BTN Ilustrasi BTN.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan bahwa BTN siap untuk menjadi mitra Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Untuk itu, BTN menyiapkan beberapa langkah strategis untuk mengembangkan kapasitas bisnisnya.

Pada buka bersama media di Jakarta, Minggu (26/5/2019) kemarin, Maryono mengatakan bahwa BTN tengah merampungkan aksi akuisisi perusahaan manajer investasi dan meracik skema pembiayaan perumahan yang baru guna menjangkau semakin banyak masyarakat untuk hunian.

Menjadi mitra BP Tapera, lanjut Maryono, menjadi sinergi tepat sejalan dengan upaya mendukung kesuksesan Program Satu Juta Rumah. Menurut dia, hal itu karena BTN sudah berkonsentrasi pada pembiayaan perumahan rakyat sejak bank itu ada pada 1974.

"Dan kami optimistis adanya Tapera ini akan menjadi stimulus positif bagi industri pembiayaan perumahan. Ini mengingat potensi peserta diperkirakan mencapai sekitar 139 juta orang pada 2024 mendatang," ujar Maryono.

BTN juga sudah melakukan inovasi dan sinergi pada segmen Kredit Pemilikan Rumah ( KPR) untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pada segmen KPR Subsidi misalnya, menurut Maryono, BTN aktif bersinergi dengan berbagai pihak untuk memperluas penyaluran kredit.

"Kami juga sudah merancang produk KPR Mikro untuk menyasar MBR informal seperti tukang ojek online dan tukang bakso supaya bisa punya rumah," tambah Maryono.

Pada kesempatan tersebut, Deputi Komisioner BP Tapera Bidang Pemanfaatan Ariev Baginda Siregar, juga menambahkan bahwa kehadiran BP Tapera ditujukan agar kebutuhan hunian kalangan MBR akan dapat dipenuhi. Kehadiran Tapera, ujar Ariev, terutama untuk menyediakan dana murah jangka panjang.

"Peserta Tapera yang tergolong sebagai MBR dapat memperoleh manfaat untuk pembelian rumah, perbaikan atau membangun rumah melalui KPR dengan bunga rendah yang disalurkan oleh institusi keuangan yang bekerja sama dengan kami," jelas Ariev.

Ariev menjelaskan, saat ini BP Tapera tengah merancang pondasi mulai SDM, keuangan, logistik, hingga rencana strategis dalam 5 tahun pertama. Nantinya, kalangan masyarakat yang ditargetkan menjadi peserta Tapera yakni para pekerja asing, pekerja swasta, pekerja mandiri, pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Aparatur Sipil Negara (ASN)/Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Ariev menjelaskan, per April 2019 lalu BP Tapera telah memiliki dana senilai Rp10,4 triliun. Dana tersebut berasal dari Taperum-PNS yang nantinya akan diperuntukkan bagi pemupukan, pemanfaatan, dan dana cadangan bagi peserta yang pensiun.

"Ke depannya dana itu akan terus meningkat. Kami proyeksikan potensi peserta Tapera pada 2024 nanti akan mencapai 139 juta orang," kata Ariev.

Dengan berbagai langkah strategis yang dilakukan, lanjut Ariev, BTN mencatat pertumbuhan pesat pada segmen KPR subsidi. Dalam 5 tahun terakhir, catatan keuangan BTN menunjukkan pertumbuhan KPR Subsidi sebesar 29,85 persen mulai Desember 2014 hingga Desember 2018.

Adapun per Maret 2019, emiten bersandi saham BBTN ini juga masih menempati posisi wahid di pasar KPR Subsidi dengan pangsa sebesar 92,96 persen. BTN juga sudah menggelar Perjanjian Pembelian Saham Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) untuk membeli saham PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNMIM).

"Sampai sekarang ini kami sudah berkomitmen membeli 30 persen saham perusahaan manajer investasi tersebut. Ke depannya dengan ijin OJK, BTN akan menambah kepemilikan saham hingga mencapai 85 persen," ujarnya.

Pembelian saham manajer investasi itu, menurut dia, dilakukan untuk memaksimalkan pengelolaan dana jangka panjang seperti dana Tapera sekaligus untuk meningkatkan kinerja bisnis BTN.

Per April 2019 lalu, BTN mencatatkan pertumbuhan positif pada penyaluran KPR dan berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Catatan keuangan perseroan merekam, KPR Bank BTN tumbuh sebesar 22,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp150,9 triliun pada April 2018 menjadi Rp184,53 triliun.

Bank Indonesia mencatat, per Maret 2019 lalu KPR secara nasional hanya tumbuh sebesar 13,2 persen yoy, turun dari 13,7 persen  yoy pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan pesat KPR di Bank BTN disumbang laju KPR Subsidi yang naik 29,37 persen yoy dari Rp80,49 triliun pada April 2018 menjadi Rp104,13 triliun di periode sama tahun ini.

Sementara itu, KPR Non-subsidi juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 14,19 persen yoy menjadi Rp80,4 triliun pada April 2019 dari Rp70,41 triliun.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X