Merancang Masjid Sebaiknya Kontekstual dengan Budaya Lokal

Kompas.com - 05/03/2019, 14:43 WIB
Desain Masjid Al IrsyadArsitag.com Desain Masjid Al Irsyad

JAKARTA, KOMPAS.com - Desain selalu berubah, tak terkecuali dengan rumah ibadah. Fasilitas ibadah khususnya masjid kini muncul dengan tampilan visual yang cantik, tak hanya menyegarkan mata namun juga unik.

Beberapa masjid di Indonesia kini tampak lebih variatif, dan menawan seperti Masjid Al Irsyad atau Masjid Raya Sumatera Barat.

Principal Urbane Indonesia Reza A Nurtjahja mengatakan, dalam membuat desain masjid sebaiknya menaati beberapa kriteria dasar, seperti letak mihrab yang harus di depan.

Baca juga: Mengintip 4 Masjid Indonesia Finalis Abdullatif Al Fozan Award

Kemudian terdapat jalur khusus sehingga tidak ada persimpangan antara jamaah laki-laki dan perempuan.

Lebih lanjut, Reza menyarankan layout ruangan sebisa mungkin berbentuk kotak guna  memudahkan baris atau posisi jamaah saat beribadah.

"Prinsip-prinsip itu yang harus diawali dulu, kemudian harus nyaman, supaya khusyuk beribadahnya. Itu yang utama," ucap Reza kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu. 

Dalam merancang masjid, menurut Reza, arsitek harus memerhatikan kenyamanan saat beribadah, terutama di Indonesia.

Dengan iklim tropis seperti ini, Reza mengungkapkan semestinya desain masjid harus teduh yang didukung sirkulasi cahaya dan udara yang baik.

"Di dalamnya, masjid dibuat nyaman dengan cahaya yang banyak dan ventilasi alami," ujar Reza.

Dai, ulama, serta warga mengikuti acara pembukaan Multaqo (Konferensi) Internasional Dai dan Ulama Se-Asia Tenggara di Masjid Raya Sumatera Barat di Padang, Senin (17/7/2017).KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA Dai, ulama, serta warga mengikuti acara pembukaan Multaqo (Konferensi) Internasional Dai dan Ulama Se-Asia Tenggara di Masjid Raya Sumatera Barat di Padang, Senin (17/7/2017).
Kemudian, Reza menyarankan sebisa mungkin arsitek dapat mengurangi penempatan kolom di dalam ruangan.

Selain itu, konsep masjid juga tidah harus selalu memakai kubah pada bagian atapnya. Desain rumah ibadah sebenarnya bisa menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

"Tidak harus memakai kubah, karena masjid Nusantara dulu juga enggak ngambil dari kubah, tapi dikontekskan dengan lokal," ucap Reza.

Reza menambahkan, bentuk masjid pada zaman dulu malah menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal.

Dia mencontohkan atap masjid di Lombok dan Kudus yang tidak melulu berbentuk kubah.

"Kita sebetulnya punya budaya yang sudah mengakar duluan, nah itu yang harus muncul, harus kita gali lagi," ucap Reza.

Baca juga: 4 Desain Masjid Indonesia Masuk Nominasi Abdullatif Al Fozan Award

"Itu memang membutuhkan kreativitas arsitek, basisnya di dua itu, tropikal sama Nusantara," lanjut dia.

Namun hal ini menjadi pertanyaan ketika desain masjid tidak memiliki ciri khusus.

Bagi Reza, jika masjid dirancang tanpa kubah, keberadaan minaret sudah cukup memberikan tanda bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah masjid.

"Yang penting itu ada minaret sih, untuk menunjukkan," ucap dia.

Prinsip lain yang bisa diterapkan adalah dengan menambahkan kekayaan yang ditimbulkan dalam sejarah Islam.

Masjid At-Taqwa Polda Bangka Belitung karya Ridwan Kamil.Dokumentasi Ridwan Kamil Masjid At-Taqwa Polda Bangka Belitung karya Ridwan Kamil.
Reza menilai, banyak hasil karya dalam kebudayaan Islam yang dapat digunakan sebagai referensi desain. Misalnya konsep aljabar yang diterapkan dalam desain masjid di Jawa Barat.

Menurutnya, kekayaan sejarah dan pengetahuan Islam seperti aljabar dapat diaplikasikan dalam desain ventilasi masjid.

Ukiran dan ornamen berbentuk matematis dapat semakin menyemarakkan desain bangunan.

Baca juga: Masjid Tak Harus Berkubah

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian adalah permintaan klien. Dalam merancang masjid, Reza mengingatkan, permintaan dan masukan klien juga harus menjadi perhatian.

"Kadang-kadang ada yang pengen ada unsur kubah, mungkin di mata si klien kubah jadi simbol utama, ya tidak apa-apa, tapi biasanya kami hadirkan dalam bentuk yang sedikit beda," tutup dia.



Close Ads X