Infrastruktur Pasca-masa Percepatan

Kompas.com - 28/01/2019, 07:00 WIB
Pembangunan terminal Bandara NYIA di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Angkasa Pura I menargetkan sebagian terminal bisa digunakan untuk melayani penumpang pada April 2019 ini. KOMPAS.com/ DANI JPembangunan terminal Bandara NYIA di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Angkasa Pura I menargetkan sebagian terminal bisa digunakan untuk melayani penumpang pada April 2019 ini.

PERHATIAN investor global tengah fokus pada perkembangan infrastruktur di Indonesia dan Asia Tenggara karena model pendanaan public private partnership (KPBU) yang terus berkembang.

Ada beberapa isu penting yang akan selalu menjadi perhatian dan tantangan dalam menentukan minat para investor ke Indonesia.

Termasuk didalamnya adalah kualitas persiapan proyek, kejelasan peraturan, dan kepastian hukum, perbaikan kapasitas kelembagaan, dan pengamanan terhadap ekonomi biaya tinggi.

Semua diperlukan untuk memfasilitasi pelaksanaan proyek dan pengoperasian aset serta pemeliharaan baik di tingkat nasional maupun pemerintah daerah.

Dunia sudah melihat kemampuan percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia dalam empat tahun terakhir. Namun pertanyaan terus menggantung di mata investor, karena masih dibutuhkan upaya besar untuk mengejar infrastruktur agar Indonesia mencapai 10 besar ekonomi global pada tahun 2025. 

Tantangan tersebut melibatkan percepatan dan perluasan infrastruktur perkotaan seperti sistem angkutan cepat massal (mass rapid transit system), air, konektivitas pelabuhan, jalan, energi, serta infrastruktur sosial seperti rumah sakit.

Para investor besar mulai dari pengelola dan infrastruktur, operator maupun lenders dunia perbankan pun masih menyisakan paling tidak tiga pertanyaan penting yang harus mendapat perhatian pemerintah. 

Pertama adalah, apa yang akan menjadi prioritas kebijakan pemerintah baru nanti, setelah 4 tahun percepatan. Apakah momentum kerja percepatan di antara para kementerian teknis akan terus berlanjut dengan irama seperti saat ini?

Jembatan Klodran di Tol Solo-KertosonoRODERICK ADRIAN MOZES/Kompas.com Jembatan Klodran di Tol Solo-Kertosono
Kedua, pentingnya aspek kemampuan fiskal para PJPK atau pemerintah daerah maupun kementerian terkait dalam membiayai cicilan kontrak Availability Payment jangka waktu konsesi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Menteri Keuangan menetapkan Batas Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun, diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 117/PMK.07/2017 tentang Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD ditetapkan sebesar 0,3 persen dari proyeksi PDB.

Dari 500 lebih kota dan kabupaten, dengan memperhitungkan batas maksimal tersebut maka kemampuan kota-kota Indonesia dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur sangat terbatas.

Kota-kota besar kecuali Jakarta, hanya memiliki kemampuan sangat terbatas, sehingga hampir pasti memerlukan keterlibatan sumber-sumber keuangan di pemerintah pusat baik melalui kementerian teknis maupun sumber yang inovatif.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X