Sawahlunto, Kawasan Cagar Budaya, dan Orang-orang Rantai

Kompas.com - 18/01/2019, 18:57 WIB
Wisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5).KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA Wisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kota Lama Batubara Sawahlunto merupakan kawasan cagar budaya yang terletak di lembah yang dikelilingi perbukitan dalam jajaran Bukit Barisan.

Wilayah ini terbentang seluas 89,71 hektar, yang meliputi tiga kecamatan yakni Kecamatan Segar, Barangin, dan Kecamatan Silungkang.

Sawahlunto pernah berjaya hampir seabad sebagai kawasan tambang batubara. Pada awal abad ke-20, Sawahlunto berubah menjadi kota tambang yang terdiri dari lima area.

Kelima area itu adalah industri, bisnis dan perdagangan, hunian, administrasi pemerintahan, serta fasilitas kesehatan.

Baca juga: Transaksi Tanah Terluas dalam Sejarah, Louisiana Dijual 15 Juta USD

Perkembangan kota ini dimulai sejak ditemukannya tambang batubara oleh Pemerintah Hindia Belanda pada akhr abad ke-19, tepatnya oleh ahli geologi.

Pada tahun 1868, ahli geologi WH. de Greve. De Greve menemukan adanya potensi besar kandungan batubara di tepi sungai Ombilin.

Pengunjung melihat koleksi Museum Goedang Ransoem di Kota Wisata Tambang Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (22/5/2014). Museum Goedang Ransoem merupakan salah satu peninggalan pemerintah kolonial ketika menjadikan Sawahlunto sebagai kota tambang penghasil batubara sejak tahun 1888.KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA Pengunjung melihat koleksi Museum Goedang Ransoem di Kota Wisata Tambang Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (22/5/2014). Museum Goedang Ransoem merupakan salah satu peninggalan pemerintah kolonial ketika menjadikan Sawahlunto sebagai kota tambang penghasil batubara sejak tahun 1888.
Setelah penemuan, Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan aktivitas hingga pada 1891, penambangan pertama dilakukan di Desa Sungai Durian.

Setahun sesudahnya, produksi pertama dari tambang ini menghasilkan sebanyak 47.833 ton batubara.

Perusahaan tambang batubara Ombilin merupakan satu-satunya di Hindia Belanda. Hingga tahun 1930-an produksi batubara Sawahlunto telah memenuhi 90 persen kebutuhan energi di Hindia Belanda.

Dengan perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan sarana industri pertambangan, Sawahlunto menjadi kota besar di pantai barat Sumatera setelah Padang waktu itu.

Baca juga: Pisau dan Selimut, Alat Tukar Jual Beli Tanah Melbourne

Namun, kota ini juga pernah kehilangan harapan saat tambang yang menopang kehidupan kota terus merosot, puncaknya pada 1988. Kondisi itu membuat kota ini pernah dijuluki kota mati.

Hingga akhirnya, sejumlah pihak menawarkan ide untuk memanfaatkan apa yang tersisa dari kegiatan tambang, terutama bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.

Patung pekerja tambang batu bara di Lubang Mbah Suro di Sawahlunto, Sumatera Barat.KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Patung pekerja tambang batu bara di Lubang Mbah Suro di Sawahlunto, Sumatera Barat.
Kemudian lahirlah Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Visi Misi Kota Sawahlunto. Dengan adanya perda ini, kawasan kota tua Sawahlunto kemudian diubah menjadi wisata tambang.

Wilayah yang sebelumnya kosong dan tertinggal kini dibenahi, sedangkan sisa kegiatan tambang dikelola agar menjad tujuan wisata.

Selain itu, bangunan-bangunan di sekitar tambang yang sudah menjadi cagar budaya dimanfaatkan untuk menarik pengunjung.

Kota tua Sawahlunto juga menawarkan wisata sejarah di beberapa obyek penting. Salah satunya adalah gudang ransum.

Gereja di Sawahlunto, Sumatera Barat, masih bergaya arsitektur zaman kolonial.KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Gereja di Sawahlunto, Sumatera Barat, masih bergaya arsitektur zaman kolonial.
Bangunan ini dulunya digunakan sebagai tempat memasak makanan bagi ribuan kuli, termasuk orang-orang rantai, sebutan untuk narapidana dan tahanan politik yang dipekerjakan sebagai kuli penambang batu bara.

Bangunan ini kemudian beralih menjadi museum yang dinamakan Goedang Ransoem. Di tempat ini catatan sejarah mengenai dapur umum masih tersimpan.

Selain itu terdapat obyek bersejarah lainnya yang menjadi bangunan cagar budaya seperti Lubang Tambang Mbah Soeroe.

Lubang bekas pertambangan ini terkenal karena digunakan sebagai jalan keluar masuk pekerja tambang dan batubara yang dihasilkan.




Close Ads X