Atas dasar ini, Realrich bersama timnya kemudian membuat rancangan bangunan sekolah yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar.
Alfa Omega School dirancang konsep yang terbuka. Hal ini merupakan keinginan dari pengelola sekolah, agar siswa yang belajar merasa semakin dekat dengan alam.
"Karena memang mintanya begitu, lebih open dan enggak panas, enggak pakai listrik banyak-banyak," imbuh dia.
Gedung sekolah dibangun lebih tinggi layaknya umpak atau rumah panggung, dengan ketinggian 2,1 meter di atas tanah.
Struktur rangka gedung dibangun dengan menggunakan baja. Bahan ini dipilih karena sifatnya yang kuat dan memiliki daya tahan yang tinggi.
Kemudian, bambu digunakan untuk memperkuat struktur, mengingat sifatnya yang fleksibel serta tidak membutuhkan banyak perawatan.
Bambu yang digunakan merupakan jenis petung dan tali yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan sekolah.
"Kami pakai bambu lokal setempat yang diambil dari Bogor dan Sumedang," kata Realrich.
Sementara untuk melengkapi konstruksi, daun nipah digunakan sebagai atap bangunan.
Bahan ini dipilih sebagai karena mampu berperan sebagai insulator atau penahan panas di dalam ruangan.
Nipah juga memiliki keunggulan lain dalam konstruksi, yakni mampu dibentuk sesuai keinginan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.