Kompas.com - 06/09/2018, 06:00 WIB
Kondisi jalan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara. Kompas.com / Hilda B AlexanderKondisi jalan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara.

MALINAU, KOMPAS.com - Tak dimungkiri, kondisi infrastruktur konektivitas yang memadai dapat memicu pertumbuhan sebuah kawasan. Hal ini bisa dilihat dari mobilitas manusia, barang, dan jasa, yang lebih aktif.

Kabupaten Malinau di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan contoh ideal betapa infrastruktur dapat mengubah aktivitas sehari-hari warganya.

Dengan luas 42.620 kilometer persegi atau lebih dari separuh dari total 72.000 kilometer persegi area Kaltara, Malinau terlalu strategis untuk hanya dijangkau oleh infrastruktur konektivitas seadanya.

Baca juga: Rabu Ini, Ekspedisi Trans-Kalimantan Dimulai

Meminjam istilah Bupati Malinau Yansen Tipa Padan, membangun Malinau sama halnya membangun Kaltara.

"Posisinya strategis. Untuk menjangkau kawasan perbatasan di Nunukan dari Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur (Kaltim), misalnya, harus melintasi Malinau. Demikian halnya dari Kutai Barat ke Mahakam Hulu, juga harus melewati Malinau," tutur Yansen menjawab Kompas.com, Rabu (5/8/2018).

Mudah dimafhumi jika Yansen, dan warga Malinau lainnya mengharapkan pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas terutama menyangkut kelancaran transportasi dan jalur distribusi logistik di wilayah pinggiran dan akses menuju perbatasan.

Yansen menggambarkan, kondisi jalan paralel perbatasan Indonesia-Malaysia di Kaltara sangat bagus, sehingga memicu pergerakan ekonomi tumbuh positif.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Refly Ruddy Tangkere tengah menjelaskan kondisi jalan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan UtaraKompas.com / Hilda B Alexander Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Refly Ruddy Tangkere tengah menjelaskan kondisi jalan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara
Namun, dampak lebih besar terasa di wilayah terkait dan Malaysia. Padahal, potensi terbesar ada di wilayah Indonesia terutama kantong-kantong yang memproduksi hasil bumi, barang, dan jasa lainnya, namun belum bisa dijangkau lewat darat.

"Saya ingin banyak orang Malaysia yang datang ke Indonesia untuk bertransaksi bukan sebaliknya orang-orang kita yang ke sana," kata Yansen.

Selama ini, tambah dia, banyak hasil komoditas dengan kualitas tinggi dari Kaltara dibawa ke Malaysia seperti beras, minyak, dan garam.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.