Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ambisi Ciputra Kuasai Timur Indonesia

Kompas.com, 18 Maret 2018, 08:25 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Mafhum bila dalam mengerjakan proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi ini, mereka mempertaruhkan segala sumber dayanya; dana, reputasi, kemampuan, kerja keras, etos, dan juga teknologi modern.

"Makassar punya potensi luar biasa besar. Proyek sejenis belum pernah ada sebelumnya," imbuh Harun.

Baca juga : Rp 30 Triliun Bakal Mengucur di Losari

Dengan pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 7,9 persen atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional, kota yang menjadi hub  Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini terlalu seksi untuk dilewatkan begitu saja.

Resistensi

Senior Director Ciputra Group Nanik J Santoso menuturkan, CitraLand City Losari merupakan bagian dari Kawasan Pengembangan Strategis Center Point of Indonesia (CPI) dengan dimensi total 157,23 hektar.

Tahap pertama reklamasi berupa timbunan pasir telah rampung 100 persen. Sementara proses pemadatan lahan sudah berada pada posisi 75 persen.

"Ini proyek dengan risiko tinggi. Kami tidak mau main-main. Kami pilih kontraktor, dan konsultan kaliber internasional," ungkap Nanik.

Baca juga : Ada Belanda di Balik Proyek Reklamasi Pluit City dan CPI

Dia berkisah, selain memilih kontraktor dan konsultan internasional, PT Boskalis International Indonesia, pihaknya juga sangat terperinci memperhatikan segala perizinan reklamasi, termasuk perkara analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

"Kami tidak akan membangun bila seluruh perizinan belum terpenuhi," sebut dia.

Nanik mengakui, pembangunan reklamasi merupakan "isu" yang sangat seksi dan masih mengundang kontroversi karena dianggap bakal menimbulkan kerusakan lingkungan. Terutama jika mengacu pada proyek serupa di Jakarta.

CPI pun tak luput dari perhatian para pecinta dan pegiat pelestarian lingkungan. Di antaranya Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan.

Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Selatan Asmar Exwar mengungkapkan resistensi dari masyarakat pesisir dan warga kota Makassar. 

"Karena reklamasi tidak memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Reklamasi hanya akan menghilangkan habitat alami pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang serta menghilangkan mata pencarian," tutur Asmar.

Dia menambahkan, sebelum pekerjaan reklamasi di bagian laut dilakukan, sudah menggusur sebanyak 45 kepala keluarga (KK) pencari kerang Mariso.

Master plan CitraLand City Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.dokumentasi Ciputra Surya Master plan CitraLand City Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.
Mereka tidak saja kehilangan mata pencarian, namun juga akses ke laut yang terhalang akibat pekerjaan awal reklamasi ini.

Karena itulah, menurut Asmar, pegiat lingkungan seperti dirinya, Walhi, dan masyarakat pesisir menentang pembangunan reklamasi CPI. 

Namun menurut Nanik, klaim Asmar tidak berdasar. Para nelayan kini dapat melakukan aktivitasnya dengan normal.

Bila sebelumnya kondisi pesisir pantai demikian dangkal dan tidak bisa dimanfaatkan untuk mencari ikan dan kerang, kini setelah dilakukan pendalaman sekitar 2 hingga 3 meter, mereka bisa meraup hasil pencarian ikan sebagaimana yang diharapkan.

"Ciputra-Yasmin mengikuti prosedur dan taat regulasi dengan mengantongi seluruh perizinan. Pembangunan reklamasi itu ada dasarnya, Peraturan Presiden (Perpres) No 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil," beber Nanik.

Teknologi modern

Nanik meyakini, pembangunan reklamasi CPI yang dilaksanakan PT Boskalis International Indonesia tidak akan berdampak buruk terhadap lingkungan.

Master plan CitraLand City Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.dokumentasi Ciputra Surya Master plan CitraLand City Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.
Mereka, tambah dia, sudah berpengalaman melakukan hal serupa di kota-kota dunia dengan kisah sukses proyek reklamasinya macam Singapura, Dubai, dan lain sebagainya.

Untuk menghasilkan kualitas pembangunan reklamasi serupa, teknologi yang sama diadopsi pada proyek CPI ini. Serangkaian teknologi konsolidasi dan pemadatan tanah pun dilakukan.

Di antaranya, mencakup pemasangan vertical drain atau prefabricated vertical drain (PVD), vibro floatation, dynamic compaction, dan high impact compaction (HEIC) yang dilakukan secara paralel selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau