Pemerintah Bantah Kejar Target Pembangunan Infrastruktur

Kompas.com - 28/02/2018, 12:00 WIB
Kondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan. MAULANA MAHARDHIKAKondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan.

DEPOK, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanudin membantah 14 proyek infrastruktur yang mengalami kegagalan konstruksi selama 6 bulan terakhir diakibatkan percepatan pekerjaan. 

Ia juga menampik kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur terjadi karena pekerja melebihi batas waktu atau overtime.

Baca juga : Under Design Picu Kecelakaan Kerja Proyek Infrastruktur

"Tidak ada mengejar target, karena setiap proyek ada kontraknya selesai tahun berapa," ujar Syarif usai memberi paparan kunci atau key note speech di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, Rabu (28/2/2018).

Syarif mengatakan, di dalam kontrak proyek, terdapat beberapa spesifikasi seperti item pekerjaan dan waktu pelaksanaan yang ditentukan berdasarkan potensi yang ada.

Tol Trans-Sumatera di Lampung.Dokumentasi Hutama Karya Tol Trans-Sumatera di Lampung.
Kontrak proyek juga mempertimbangkan apa saja kegiatan yang dilakukan, berapa material yang disiapkan, berapa pekerja dan peralatannya. Setelah itu, baru ditentukan waktu atau masa kerja proyek.

Baca juga : Pemerintah Baru Terima Tiga Permohonan Evaluasi Proyek Layang

Syarif menegaskan, jika ditentukan pekerjaan selesai 2019, hal tersebut bukan berarti percepatan, tetapi memang sudah tertuang dalam kontrak.

"Kalau percepatan infrastruktur banyak, tinggal ditambah biayanya karena otomatis banyak kegiatan, sehingga banyak juga tenaga kerja," jelas Syarif.

Jembatan Klodran di Tol Solo-KertosonoRODERICK ADRIAN MOZES/Kompas.com Jembatan Klodran di Tol Solo-Kertosono
Sementara itu, terkait pekerjaan yang melebihi batas waktu, ia mengaku memang ada beberapa yang tidak bisa ditinggalkan.

Baca juga : Waskita Akui Lalai dalam Kecelakaan Kerja Infrastruktur

Sebagai contoh, pada saat pekerja harus melakukan pengecoran. Pekerjaan jenis ini, harus dilakukan sampai tuntas.

"Pengecoran itu harus dilakukan sampai tuntas. Kalau dibiarkan, itu bisa mengeras. Tetapi ini tidak setiap hari," ucap Syarif.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X