"Under Design" Picu Kecelakaan Kerja Proyek Infrastruktur

Kompas.com - 28/02/2018, 10:00 WIB
Kondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan.MAULANA MAHARDHIKA Kondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai insiden kecelakaan pada sejumlah proyek infrastruktur menodai visi pemerintah yang tengah melakukan percepatan pembangunan.

Direktur Eksekutif Center for Sustainable Infrastructure Development (CSID) Mohammed Ali Berawi mengatakan terjadinya kecelakaan kerja pada umumnya disebabkan oleh mutu pekerjaan dan produk konstruksi yang rendah.

Baca juga : 32 Proyek Tol dan 4 Kereta Layang Terkena Dampak Moratorium

"Beberapa faktor penyebab rendahnya kualitas dan kecelakaan kerja disebabkan oleh desain perencanaan yang tidak memenuhi kriteria dan spesifikasi yang diharapkan dapat dihasilkan dari produk konstruksi (under design)," ujar Ali saat Diskusi Publik "Merancang Aksi Nyata Gerakan Nasional Keselamatan Konstruksi" di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Rabu (28/2/2018).

Pada tahap pelaksanaan, kata Ali, kecelakaan kerja disebabkan karena pemilihan metode kerja, material, peralatan kerja, serta kompetensi pekerja yang kurang berorientasi pada proses dan hasil produk yang berkualitas dan aman.

Baca juga : Waskita Akui Lalai dalam Kecelakaan Kerja Infrastruktur

Sedangkan pada tahap penggunaan produk konstruksi, kecelakaan dapat disebabkan karena pemakaian produk diluar beban perencanaan dan lemahnya pemeliharaan yang dilakukan.

Tim Lafor Mabes Polri Cabang Surabaya melakukan penyelidikan sekaligus investigasi ambruknya grider flayover tol Pasuruan-ProbolinggoKOMPAS.com/Moh.Anas Tim Lafor Mabes Polri Cabang Surabaya melakukan penyelidikan sekaligus investigasi ambruknya grider flayover tol Pasuruan-Probolinggo
Menanggapi target waktu yang perlu dipenuhi, Ali Berawi menuturkan, percepatan penyelesaian pembangunan proyek dapat dilakukan melalui crash program dengan mempertimbangkan penambahan sumber daya, termasuk kesiapan alokasi penambahan biaya, sumber daya manusia, peralatan produksi, metode kerja dan sebagainya.

"Fungsi pengawasan dan kontrol harus dilakukan dengan disiplin dan konsisten untuk memastikan kualitas pekerjaan dan hasil produk sesuai dengan standar prosedur dan spesifikasi yang disyaratkan," sebut Ali.

Baca juga : Ada Apa dengan Waskita Karya?

Selain itu, imbuh dia, percepatan penyelesaian proyek juga bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi pracetak dengan membangun pabrik baru di lapangan dan melakukan kerja sama joint  operation dengan perusahaan lain.

Puslabfor mulai cari bukti insiden melorotnya cor-coran di Tol Becakayu, Rabu (21/2/2018)Stanly Ravel Puslabfor mulai cari bukti insiden melorotnya cor-coran di Tol Becakayu, Rabu (21/2/2018)
Selanjutnya, menurut dia, penambahan shifting SDM yang berkompeten dan peralatan kerja yang layak operasi juga dapat mempercepat penyelesaian proyek.

"Di lain pihak, diperlukan juga harmonisasi kebijakan dan sinergi lintas kementerian untuk dapat meningkatkan kinerja industri konstruksi," jelas Ali.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X