Kompas.com - 10/11/2017, 18:31 WIB
Pekerja melakukan pengukuran kondisi tanah di lokasi pembangunan trotoar jalan di pinggir Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Selasa (8/8/2017). Trotoar jalan itu nantinya akan dilengkapi dengan jalur sepda, jalur disabilitas, dan juga taman. diharapkan proyek trotoar di pinggir Sungai Mookervart itu dapat menjadi proyek percontohan trotoar di Jakarta Barat. Kompas/Wisnu Widiantoro Pekerja melakukan pengukuran kondisi tanah di lokasi pembangunan trotoar jalan di pinggir Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Selasa (8/8/2017). Trotoar jalan itu nantinya akan dilengkapi dengan jalur sepda, jalur disabilitas, dan juga taman. diharapkan proyek trotoar di pinggir Sungai Mookervart itu dapat menjadi proyek percontohan trotoar di Jakarta Barat.
|
EditorHilda B Alexander

"Tahun depan, kami gencarkan lagi ke arah jalur protokol, Sudirman-Thamrin. Ruas itu penting karena akan menjadi lokasi Asian Games," tutur Yusmada.

Trotoar di kawasan jantung Ibu Kota itu, lanjut Yusmada, diharapkan memiliki lebar minimal 2 meter dan dilengkapi dengan furnitur jalan, seperti bangku taman, mural, lampu jalan, dan sebagainya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Selain membuat nyaman pejalan kaki, penataan trotoar juga bermanfaat untuk right sizing jalan. Dengan begitu, jangan sampai ada permanfaatan tak semestinya di suatu ruas jalan," paparnya.

Harapannya dengan trotoar yang telah dibuat nyaman, warga Jakarta dapat lebih giat berjalan kaki.

Baca juga: Agar Berjalan Kaki Tidak Membosankan, Trotoar Harus Menarik

Ini krusial mengingat hasil riset dari Stanford University (2016) menunjukkan, Indonesia termasuk dalam kelompok yang warganya hanya melangkah rata-rata 3.513 per hari.

Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Hongkong misalnya, yang mana warganya melangkah 6.880 per hari.

Harapan

Survei Litbang Kompas pada 5-6 Agustus lalu menunjukkan, masih ada tantangan yang dihadapi pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam menata jalur pejalan kaki.

Dalam survei tersebut, sebanyak 49,2 persen responden menganggap seringnya okupasi oleh pedang kaki lima (PKL) menjadi hal yang paling membuat trotoar Jakarta kurang nyaman.

Sementara itu, sebesar 31,7 responden mengeluhkan sepeda motor yang acap kali melintas di trotoar dan 12,5 persen menganggap permukaan yang tidak rata, tidak bersih, serta sempit sebagai faktor penyebab belum baiknya trotoar Ibu Kota.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.