Kompas.com - 28/07/2016, 17:00 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, kian sepi dalam lima tahun terakhir, seperti yang tampak pada Jumat (8/3/2013). Komoditas dan material yang sering dibongkar muat di pelabuhan ini antara lain, tepung terigu, sagu, aspal, pasir besi, dan batu bara. Pemerintah merencanakan membangun jalur kereta api di areal pelabuhan. Namun, hal ini merisaukan para sopir yang biasanya mengangkut barang setelah dibongkar muat.
KOMPAS/RINI KUSTIASIHAktivitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, kian sepi dalam lima tahun terakhir, seperti yang tampak pada Jumat (8/3/2013). Komoditas dan material yang sering dibongkar muat di pelabuhan ini antara lain, tepung terigu, sagu, aspal, pasir besi, dan batu bara. Pemerintah merencanakan membangun jalur kereta api di areal pelabuhan. Namun, hal ini merisaukan para sopir yang biasanya mengangkut barang setelah dibongkar muat.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Batu bara sebagai salah satu bahan bakar untuk memproduksi semen harus didatangkan dari sejumlah daerah.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, misalnya, mendatangkan batu bara lewat Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara, untuk pabrik semen di Citeureup, Jawa Barat.

Sementara untuk pabrik semen di Palimanan, batubara didatangkan lewat Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat.

"Sayangnya, di Cirebon ini distop, ngga boleh lagi unloading coal di pelabuhan ini. Akhirnya batubara yang ke Palimanan harus dari Marunda," ujar Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat Seminar Nasional Infrastruktur, Transportasi dan Logistik Nasional di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (28/7/2016).

Karena harus mendatangkan batu bara lewat Marunda ke Palimanan, kata Chris, bahan bakar yang dikeluarkan jadi lebih banyak.

Kenaikan biaya bongkar bahkan meningkat sampai 167 persen. Selain itu, karena pabrik-pabrik yang biasa bongkar-muat di Cirebon migrasi ke Marunda, pelabuhan kecil ini ikut sibuk.

"Ini jadi membuat waktu menunggu dan antrean semakin panjang. Lalu lintas juga jadi macet," kata Chris.

Ia mempertanyakan, dalam 30 tahun beroperasi di Pelabuhan Cirebon, Indocement tidak mengalami masalah dalam bongkar-muat batu bara.

Setelah pihaknya mencari tahu, ternyata penghentian ini disebabkan karena mulai banyak pabrik-pabrik selain Indocement yang bongkar-muat batu bara di Cirebon.

Sebagian besar, tidak melakukan prosedur bongkar-muat yang benar sehingga mendapatkan peringatan dari sisi Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

"Ini harus ada jalan keluar, kami ingin kerja sama dengan PT Pelindo (persero) untuk mengusulkan solusi supaya Cirebon bisa beroperasi lagi," jelas Chris.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.