Kompas.com - 09/02/2015, 15:29 WIB
Para pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air di pertigaan Hek, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (24/11/2014). KOMPAS.COM/ROBERTUS BELLARMINUSPara pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air di pertigaan Hek, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (24/11/2014).
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna, menilai, kemacetan yang terjadi pada Senin (9/2/2015) ini akibat hujan deras dan banjir di Jakarta dan sekitarnya merupakan bencana nasional.

"Ini potret kegagalan mitigasi bencana Indonesia yang diwakili Jakarta sebagai acuan. Seharusnya pemerintah kota dan daerah mampu mengantisipasi secara bersama terhadap akibat yang akan ditimbulkan dari bencana banjir dan hujan," tutur Yayat saat dihubungi Kompas.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia melanjutkan, pemerintah seharusnya mengeluarkan instruksi kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar rumah setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca bahwa Jakarta dan sekitarnya diwarnai hujan dengan intensitas tinggi.

"Akibatnya, semua ruas jalan strategis dan utama, seperti Tol Jagorawi, Tol Dalam Kota, Jalan Tol Lingkar Luar di barat dan selatan padat merayap pagi tadi. Ini sebagai efek ikutan dari banjir yang menggenangi pusat kota dan beberapa kawasan di sekitar Jakarta. Warga terjebak banjir dan macet," tandas Yayat.

Pemerintah, tekan Yayat, harus segera membangun transportasi berbasis rel sesegera mungkin. Menurut dia, kebutuhan mass rapid transit (MRT), light rapid transit (LRT), atau apa pun bentuknya, selama berbasis rel, sudah mendesak dan perlu untuk dibangun.

Dalam hitungan Yayat, jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka puluhan bahkan ratusan triliun rupiah akan terbuang percuma akibat kegagalan pemerintah dalam membangun sistem transportasi publik.

Yayat pun memberikan angka asumsi, dalam sebulan rerata ongkos transportasi (bensin) yang dikeluarkan masyarakat dengan kendaraan roda empat sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per orang atau 30 persen hingga 34 persen dari total pendapatan (take home pay).

Jika jumlah perjalanan mencapai 12 juta (angka populasi yang memenuhi Jakarta pada siang hari), maka uang yang terbuang percuma sebanyak Rp 33 triliun per bulan. Dengan demikian, jumlah uang dalam setahun senilai Rp 396 triliun menjadi sia-sia.

"Masyarakat jadi tidak produktif. Masyarakat terjebak macet dan banjir hanya karena pemerintah gagap menghadapi kondisi yang sebetulnya bisa diatasi dan diantisipasi. Segera banting setir, bangun transportasi massal berbasis rel," pungkas Yayat.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.