Keok dari Malaysia, Indonesia Hanya Mampu Bangun Tiga "Supertall"

Kompas.com - 02/01/2015, 15:15 WIB
Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. www.shutterstock.comGedung-gedung pencakar langit di Jakarta.
|
EditorHilda B Alexander

Pada akhirnya, menurut Editor CTBUH, Daniel Safarik, semua pengembangan properti, khususnya pencakar langit, berawal dan kembali kepada uang. Jika tidak ada modal yang cukup untuk membiayai pembangunan, tapi ada keinginan dari pimpinan sebuah kota atau negara memiliki "ikon", maka pemerintah perlu menjadi investor utama.

"Bahkan, banyak negara melakukan hal ini demi membangun pencakar langit. Strategi ini menghasilkan pembangunan pencakar langit lebih cepat," tutur Safarik melalui surel yang dikirimkan kepada Kompas.com, Jumat (19/12/2014).

Namun demikian, tambah Safarik, perlu dipertimbangkan juga, bahwa membangun ikon kota atau negara yang menjulang tinggi bukan perkara mudah. Pasalnya, menara-menara yang dibangun itu tidak secara otomatis tersewa dan bahkan beberapa di antaranya mengalami kekosongan dalam waktu cukup lama. 

"Untuk menghindari rasa malu, sering pemerintah membuat rencana menjadikan pencakar-pencakar langit yang kadung terbangun itu menjadi kantornya atau biasa disebut sebagai owner occupied. Fenomena ini biasa disebut dengan "cart before the horse"," tandas Safarik.

Jika Indonesia ingin membangun gedung pencakar langit, lanjut Safarik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pemerintah menetapkan kebijakan ekonomi ramah investor yang akan menarik banyak pebisnis.

"Dengan begitu terbuka peluang untuk dikembangkan gedung-gedung pencakar langit di kawasan bisnis utama. Ini lebih realistis ketimbang mendanai langsung proyek pembangunan pencakar langit dengan harapan dapat ditempati dan diisi perusahaan-perusahaan komersial," pungkas Safarik.


Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terpopuler

komentar di artikel lainnya
Close Ads X