Tol Semarang-Solo Dongkrak Harga Lahan dan Properti

Kompas.com - 01/08/2014, 15:08 WIB
Tol Semarang-Solo Seksi II Semarang-Ungaran-Bawean. tribunnewsTol Semarang-Solo Seksi II Semarang-Ungaran-Bawean.
|
EditorHilda B Alexander
SEMARANG, KOMPAS.com - Beroperasinya jalan bebas hambatan Semarang-Solo Seksi II yakni Semarang-Ungaran-Bawean, menstimulasi kawasan-kawasan di sekitarnya menjadi lebih terbuka. Lonjakan harga lahan dan properti pun tak terelakkan.

Demikian pendapat Ketua DPD REI Jawa Tengah, MR Priyanto terkait konstribusi pembangunan infrastruktur Tol Semarang-Solo terhadap pertumbuhan properti di sekitarnya kepada Kompas.com, Jumat (1/8/2014).

Menurut Priyanto, Tol Semarang-Solo mendongkrak harga lahan dan properti melesat lebih tinggi. Saat ini saja di kawasan-kawasan pinggiran harga lahan yang sesuai untuk dikembangkan hunian, sudah mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per meter persegi sementara harga properti komersial seperti ruko bertengger di angka Rp 700 juta -Rp 1 miliar untuk tipe dua lantai.

Bagaimana dengan harga hunian? Untuk hunian ke bawah non-subsidi atau di luar skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah berada di angka Rp 300 juta hingga Rp 500 juta untuk tipe 36. Sedangkan di pusat kota Semarang mencapai kisaran Rp 500 juta-Rp 1 miliar.

"Ke depan, saat seluruh seksi Tol Semarang-Solo rampung, harga bakal melesat lagi sekitar 15 persen hingga 20 persen. Dan siap-siap saja lahan-lahan di sekitarnya seperti Ungaran, Salatiga, Solo diincar para investor," papar Priyanto.

Kota-kota yang diuntungkan

Priyanto menambahkan, keberadaan Tol Semarang-Solo juga membawa berkah tersendiri buat kota-kota lainnya yakni Magelang, Pekalongan, Tegal, dan Purwokerto. Di kota-kota lapis kedua ini, properti tumbuh signifikan. Terutama subsektor perhotelan dan pusat belanja.

"Waktu tempuh menjadi jauh lebih singkat. Dan ini sangat mempengaruhi produktivitas. Arus barang, jasa dan manusia menjadi lebih aktif dan berdampak pada kegiatan ekonomi di sekitarnya, terutama kontribusi terhadap kebutuhan dan pasokan properti," imbuh Priyanto.

Sementara untuk hunian, lanjut dia, masih didominasi kelas menengah bawah, sesuai dnegan tingkat pendapatan (upah minimum regional) yang berada pada kisaran Rp 1,150 juta hingga Rp 1,2 juta.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X