Kompas.com - 22/06/2014, 16:23 WIB
Salah satu proyek properti di Johor. thestaronlineSalah satu proyek properti di Johor.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Investor dan pengembang raksasa Tiongkok secara agresif masuk pasar properti Malaysia bukan tanpa alasan.

Mereka membawa kapital besar ke negeri jiran ini karena kondisi politiknya terhitung stabil, biaya masuk yang rendah, kesamaan budaya, bahasa, dan juga sebagian besar dipicu oleh perlambatan pasar properti di Tiongkok sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara Singapura tidak menjadi tujuan utama karena harga lahan mahal, demikian pula dengan ongkos konstruksi, pajak, bea masuk, dan terpenting kondisi pasar propertinya belum pulih.

Sedangkan Vietnam dihindari karena kerusuhan yang dipicu sentimen anti-Tiongkok yang terjadi baru-baru ini. Sehingga, negeri Indochina ini dianggap memiliki risiko politik sangat tinggi dan tidak aman bagi investasi properti.

"Berinvestasi properti di Vietnam terlalu berisiko, menyusul kerusuhan besar yang terjadi akhir-akhir ini. Risiko tidak sepadan dengan nilai investasi," ujar salah satu pengembang Tiongkok seperti dikutip The Star.

Adapun Filipina tidak dipilih karena negara Tiongkok tidak memiliki hubungan diplomatik dan politik yang kondusif selama bertahun-tahun. Tentu saja, hubungan tidak bersahabat kedua negara ini memengaruhi ekspansi bisnis para pengembang.

Sebelumnya diberitakan, arus kapital pengembang Tiongkok deras masuk ke Malaysia, khususnya kawasan pertumbuhan bisnis baru Iskandar Malaysia, Johor. Para pengembang tersebut akan membangun beberapa megaproyek di atas lahan reklamasi raksasa, Forest City seluas 2.000 hektar.

Tercatat Country Garden Holdings Co Ltd yang berkolaborasi dengan Kumpulan Prasarana Rakyat Johor (KPRJ). Mereka bakal membangun hunian mewah, properti komersial pusat belanja, resor, hotel, perkantoran, taman, destinasi rekreasi, dan lain-lain.

Forest City digadang-gadang bakal menjadi proyek reklamasi terbesar di Malaysia dan dirancang sebagai destinasi wisata utama. Lokasinya yang berdekatan dengan persimpangan jalur kedua (second link) Selat Johor menuju Singapura, membuat pemerintah negara kota tersebut kegerahan.

Pemerintah Singapura, melalui nota diplomatik, bahkan telah meminta Malaysia untuk mengkaji lebih serius analisis dampak lingkungan (Amdal) proyek tersebut karena dianggap akan berdampak besar terhadap lingkungan lintas batas.

Sementara pemerintah Malaysia, justru menjamin pembangunan reklamasi aman bagi lingkungan karena telah memenuhi Amdal sesuai yang disyaratkan Undang-undang Kualitas Lingkungan Tahun 1974.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.