Kompas.com - 02/04/2014, 16:11 WIB
|
EditorHilda B Alexander

Akan tetapi, lanjut Hendra, orientasi berubah. Dalam tiga tahun terakhir justru investor Hongkong, dan China yang semakin agresif, menyusul kehadiran investor asal Jepang dan Korea. Sementara investor regional dari Singapura, dan Malaysia, tidak menunjukkan minat lebih tinggi.

"Tentu mereka melirik Indonesia, khususnya Jakarta, karena kenyataan bahwa pangsa pasar menengah sangat besar dan potensial. Selain itu, berinvestasi properti di China juga sudah mulai jenuh dengan harga properti yang terlalu tinggi. Tapi, yang paling utama adalah properti China sudah bubble," urai Hendra.

Bukan properti

Selain Hongkong Land dan China Sonangol Land, terdapat investor lainnya yang juga berminat masuk Indonesia. Bahkan jumlahnya lumayan banyak. Mereka termotivasi untuk melakukan diversifikasi usaha di luar bisnis inti mereka.

Menurut Associate Director Research and Consultancy Knight Frank Indonesia, Hasan Pamudji, bisnis inti mereka adalah manufaktur, pertambangan, telekomunikasi bahkan material bangunan.

"Hanya, investasi mereka bukan dalam skala besar. Skala menengah dan kecil. Dana mereka ditanamkan di proyek-proyek besar dengan harapan mendapat keuntungan yang besar," ujar Hasan.

Pendapat serupa juga dikatakan Hendra. Menurutnya, para investor individual jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang investor lembaga. "Mereka membeli properti ataupun patungan modal (joint venture) untuk diperjualbelikan kembali ke investor lainnya setelah beberapa tahun dibangun. Hal ini sudah sangat umum terjadi di negara-negara maju, dan China sendiri," tandasnya.

Fenomena jual beli properti sesama investor tersebut, imbuh Hendra, merupakan bagian dari maraknya bisnis properti. Bagus juga buat pendanaan pengembang properti lokal dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk properti. "Dengan begitu, produk pengembang kita bisa naik kelas, dan disejajarkan dengan produk internasional lainnya," pungkas Hendra.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.